Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curahan Hati. Tampilkan semua postingan
Lama tidak aktif tulis menulis di blog. Baru kali ini sempat lagi.
Maklum saja ya, anak kuliahan yang nyambi jadi ibu rumah tangga, tugas kuliah bejibun, piring dan baju kotor menggunung, menangis pun tiada guna.

Kali ini saya ingin membagikan kisah masa lalu saya. Masa lalu saya itu penuh lika-liku. "Hidup itu bagaikan sebuah roda pedati" benar-benar terjadi dalam dunia saya. Masa kecil saya mungkin boleh dibilang anti-mainstream. Penuh kejutan dan punya banyak cerita dibandingkan sebagian besar anak seusia saya.

Tulisan mengenai masa lalu ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian, semoga menjadi inspirasi bagi kalian yang sedang membangun rumah tangga dari nol (seperti saya sekarang). Karena kehidupan tidak semulus perjalanan cinta remaja kasmaran. Bagian pertama ini akan banyak berisi tentang keluarga saya.

Saya terlahir dari keluarga yang biasa saja. Ayah saya seorang PNS di kantor pengadilan agama di jakarta, yang saat saya kecil masih berada di bawah departemen agama, gajinya kecil. Ayah saya berangkat kerja menggunakan angkutan umum. Dia naik turun kopaja dan angkot, malamnya berkutat dengan mesin tik, menuliskan apa yang tertulis acak-acakan khas tulisan orang tua di map yang dibawanya pulang. Ayah terlahir dari keluarga yang awalnya berada, namun karena entah kenapa kakak laki-lakinya selalu sial, akhirnya satu persatu aset dijual hingga tidak terasa kehidupannya menjadi melarat.
Ayah yatim. Kakek meninggal saat ia masih duduk di bangku kuliah, padahal saat itu dia kuliah di Trisakti yang terkenal bergengsi dan mahal. Tapi dengan bantuan saudara-saudaranya ia berhasil jadi sarjana.

Nenek dari ayah, yang pernah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, dulu keluarganya cukup terpandang. Kakeknya ayah dari garis nenek dulu adalah seorang mandor perkebunan karet milik perusahaan dari Belgia yang berlokasi di Sawangan, Depok, sejak akhir masa penjajahan. Nenek saya selalu cerita, bapaknya dulu, tinggiiii sekali untuk ukuran orang kampung. Kalau pergi kerja itu berangkatnya naik kuda putih, katanya. Namun saya tidak pernah melihat fotonya, beliau meninggal sejak lama, dan hanya buyut perempuan saya yang sempat saya kenal, beliau meninggal tepat di usia ke 99, sama seperti namanya.

Ibu saya berasal dari keluarga yang cukup terpandang di sawangan. Kakeknya dulu adalah pedagang paling kaya, yag juga adalah anak dari saudagar paling kaya (dan istrinya banyak) di sawangan. Orang-orang dari Meruyung, Parung, Mampang, belanja keperluan warungnya itu di tokonya! kata ibu saya. Anak dari buyut saya yang tidak bersekolah di pesantren itu hanya 2, salah satunya adalah kakek saya. Oleh karena itu anak-anaknya pun tidak menganut sistem pesantren.

Dari sekian banyak anak buyut saya itu, hanya kakek saya yang tidak nyaman jadi guru. Ia lebih suka membuka usaha. Usahanya tidak langsung berhasil. Dengan kisah cinta si kaya dan si miskin yang klasik, kakek dan nenek saya memulai kehidupan berumah tangga dengan mengontrak kontrakan kecil di pinggir pasar, jauh dari gelimangan harta dan bimbingan uang dari orangtuanya yang kaya. Nenek saya berasal dari keluarga miskin, bapaknya hanya pedagang buah, jauh kekayaannya dari kakek saya, jadi ibunya kakek tidak merestui pernikahan itu. Klasik kan?

Awalnya, kakek saya jadi kuli panggul di pasar itu. Pekerjaannya ya memanggul beras dan semacamnya. Tidak lama, sekitar 1 tahun, ia beralih profesi menjadi petani. Dulu daerah Sawangan Depok masih full sawah dan kebun karet. Profesi itu bertahan tidak begitu lama, karena ada sebuah kejadian, yang katanya ada unsur mistisnya. Rekan kerjanya sebagai petani penggarap tewas di ladang karena meminum pestisida, katanya sih salah ambil botol minum. Yang membuat orang berpikir itu ada unsur mistisnya adalah karena bau pestisida itu yang menyengat, seharusnya tidak mungkin si bapak itu salah menenggak botol minum!

Sisa hasil tani itu dia gunakan untuk membeli lahan di dekat pintu masuk kebun karet, yang sekarang adalah tugu sawangan baru, depok. Di sana, ia membuka toko kelontong. Barangnya diambil dari toko bapaknya, dengan cara hutang. Itu terjadi saat ibu saya masih kecil. Mereka sekeluarga tidur di loteng, sementara di bawahnya adalah toko kelontong. Bukan 2 lantai, namun loteng sederhana. Untung lumayan besar diperoleh saat ada program beras sosial dari pemerintah, saya lupa apa istilahnya, namun ibu saya cerita bahwa dari program itu toko-toko yang diberi jatah beras program akan memperoleh keuntungan. Dari keuntungan itu kakek membeli ayam petelur. Awalnya ayam kampung biasa. Ayam itu kemudian diternakkan, awalnya hanya sebagai hobi. Lumayan telurnya bisa diambil untuk makan. Lama kelamaan ayamnya berkembang biak. Di satu ketika, kakek ke jakarta dan membeli ayam petelur. Nah, ayam itu pun diternakkan dan jadilah berkembang biak cukup banyak. Telur-telur yang dihasilkan diambil dari kandang ayam setiap pagi. Mengambil telur itu adalah tugas ibu dan om saya, yang saat itu masih duduk di sekolah dasar.

Berawal dari kandang sederhana, akhirnya usaha telurnya menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dari toko kelontong hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menutup toko dan fokus ke usaha telur.

Usaha telur itu berkembang pesat dan masih bertahan hingga ibu saya lulus SMA. Kakek memasok telur ke berbagai pasar di jakarta, dan sepulangnya mengantar telur, sesekali beliau mampir menjemput ibu saya pulang sekolah. Ibu saya dan 2 adiknya bersekolah di SMA Al Azhar pusat di Kebayoran Baru. Kurang bergengsi apa sekolah itu jaman dulu? Tapi ibu saya masih mau dijemput dengan mobil bak terbuka berisi peti telur kosong, sementara teman-temannya sudah ada yang bawa BMW sendiri. BMW, Mercedes, jaman dulu.

Entah bagaimana mulanya, kakek saya membawa pulang ayam broiler dan mulai menternakkannya di rumah. Itu adalah ayam broiler pertama yang menjejakkan cekernya di Sawangan. Ayam apa tuh, koq bulunya putih semua?

Akhirnya di masa kuliahnya ibu saya, kakek berubah haluan menjadi beternak ayam broiler alias ayam pedaging. Peternakannya maju pesat hingga akhirnya kakek punya usaha peternakan ayam di beberapa lokasi, yang saya ingat ada di Sawangan, yang sekarang di tikungan di pintu masuk perumahan Sawangan Permai, ada dua lokasi di sana, lalu ada di Susukan, dan Citayam. Tanahnya luas-luas. Satu lokasi mempunyai 4-5 kandang, yang per kandangnya dapat menampung ribuan lebih ekor ayam. Di salah satu lokasi, dibuat kolam ikan besar di bawah kandang ayamnya, yang diisi ikan gurame beberapa ribu ekor. Di bidang peternakan, kakek saya adalah peternak terbesar kedua se Jawa Barat saat itu. Saya ingat karena kakek saya pernah diajak pergi ke Thailand oleh dinas peternakan dan perusahaan pakan ternak, entah itu Charoen Phokphand atau Goldcoin saya tidak tahu.

Untuk memotong rantai penjualan, ayam dari kandang dipotong di pemotongan ayam milik sendiri. Ya, kakek saya membuat pemotongan ayam modern, dengan mesin potong yang mampu menghasilkan ayam potong dalam jumlah banyak dalam waktu singkat. Pekerjanya kebanyakan orang jawa. Lokasi pemotongannya ada di Sawangan juga, yang sekarang jadi pemotongan bebek.

Untuk lebih mempersingkat dan mengamankan pasar, di lokasi pemotongan itu dibuatkan beberapa puluh kontrakan kecil untuk para pedagang ayam di pasar. Ya, mereka tinggal di sana, hidup di sana, menjualkan ayam yang dipotong disana. Dini hari mereka ke pasar berjualan ayam, siang hari mereka setor ke kantor. Ibu saya memimpin kantor pemotongan itu, kakek saya mengepalai kantor urusan peternakan, om saya mandor di peternakannya, mengurusi keluar masuk pakan dan obat ayam. Saat itu saya sudah lahir, sudah besar, dan sudah cukup mengerti.
Saya tahu mana truk engkel untuk angkut ayam dari peternakan, saya tahu bagaimana model truk yang digunakan untuk membawa DOC (ayam pitik berumur beberapa hari) ke kandang, saya tau bagaimana kerja mesin dan alur pemotongan ayam modern, saya tau dinginnya cool storage untuk menyimpan beku ayam-ayam yang belum terjual, saya tau betul bau amis pemotongan ayam dan menjijikkannya saluran air di sekitar mesin potong, yang penuh darah dan bulu putih.

Arus keuangan perusahaan saat itu sangat tinggi. Saat harga beras masih 500 perak, kakek saya setoran 2 hari sekali ke bank BNI cabang Mayestik sebesar 18 sampai 30 juta rupiah. Saya ingat betul saya selalu ikut kakek kalau mau ke mayestik, naik sedan Civic build up jepang atau naik Rocky yang gahar. Saya naik ke lantai 2 bank itu yang mana hanya nasabah prioritas yang ada di sana, saya duduk ke meja teller, setelah itu saya diajak nenek belanja sayur dan bahan makanan di pasar mayestik. Terkadang saya dibawa ke bagian daging yang amis, tapi saya tidak merengek minta keluar dari sana. Saya hanya minta dibelikan somay super enak di lantai dasar, atau sate padang, dan minumnya jus alpukat. Lalu solat zuhur di musholla di lantai teratas, yang dulu banyak sekali perempuan tertidur di siang hari di sana. Saking seringnya saya ikut ke pasar mayestik, saya sampai sedih waktu beberapa tahun belakangan ini mampir ke Pasar Mayestik lagi. Ya ampun sudah banyak sekali perubahannya, Esa Mokan dan Esa Genangku jadi mati segan hidup tak mau, area parkir sekarang jadi banyak, Bombay tetap berjaya (ganti nama), pedagang perahu kletek-kletek itu menghilang, pedagang celana dalam di tangga itu ga ada lagi, mushollanya jadi bagus, tapi....kemana tukang somay dan sate padang kesukaan saya?

Masa-masa jaya usaha ini adalah hingga tahun 1998. Oleh karena itu saya beri judul tulisan ini terkait dengan krisis moneter.

Ayam adalah komoditas yang retan. Harganya amat fluktuatif, sampai sekarang. Ibu saya pernah bilang, kalau jantungan, jangan jualan ayam!

Tahun 1997-1998, ketika krisis moneter menerpa indonesia, nilai rupiah terhadap dollar anjlok parah. Hal ini berakibat pada harga pakan ayam yang kian tinggi. Pakan ternak saat itu masih impor, kebanyakan dari Thailand. Oleh karena itu efek imbas kenaikan dollar sangat teramat besar. Harga pakan yang tinggi otomatis harus diimbangi dengan harga jual ayam yang tinggi. Namun harga yang tinggi tidak dapat ditoleransi oleh masyarakat yang juga sedang tercekik inflasi dari komoditas lain. Akhirnya banyak ayam yang tidak terjual. Selain memiliki peternakan sendiri, kakek juga menjadi pembina dan pemasok untuk peternak skala kecil. Mereka yang modalnya kecil sangat kewalahan menanggapi keadaan krisis itu, akhirnya, daripada ayamnya mati karena tidak diberi makan, lebih baik potong saja walaupun ukuran dan usianya belum cukup, lalu jual dengan harga murah asalkan jadi uang. Efeknya.....peternak di bawah tidak mampu bertahan, ayam di kandang banyak yang mati, dijual pun tidak habis terjual karena harga begitu tinggi. Bisa dibayangkan bagaimana efeknya pada perusahaan.

Ada sebuah kejadian yang sangat saya ingat tentang turunnya Soeharto.
Mungkin kalian anak 92 tidak tahu tentang itu selain dari sejarah, tapi saya ingat betul. Saat itu perusahaan seharusnya mengirim ayam ke jakarta, namun urung dilakukan karena kerusuhan. Toko di depan rumah nenek semua tutup dan dicoret dengan tulisan "MILIK PRIBUMI". Saya saat itu seperti biasa, dititipkan di rumah nenek, sementara ibu saya di kantor pemotongan ayam. Tiba-tiba om saya berlari dari kantor peternakan yang letaknya di sebelah rumah nenek. Saya sedang bermain sendiri saat itu dengan boneka kucing saya. Om saya berlari sambil berteriak "SOEHARTO TURUUUN!! SOEHARTO TURUUUUUN!!!". Om saya masuk ke rumah lalu memasang TV keras-keras. Sangat keras karena tv itu terhubung ke speaker macam home teather jadul. Saya masuk ke rumah, berjalan ke kamar mandi yang ada di sebelah ruang TV, dan saya lihat seseorang berpidato di TV. Saya tidak tahu apa maknanya yang jelas om saya entah kenapa sangat senang.

Perubahan besar terjadi setelahnya.
Satu persatu truk engkel dijual. Satu persatu mobil pribadi, termasuk Civic cantik itu juga dijual. Tersisa satu, Taft Rocky, yang pada akhirnya pun harus dijual beberapa tahun setelahnya. Ternyata krisis moneter menyisakan hutang sangat besar kepada berbagai perusahaan pakan ternak, salah satu yang tersisa cukup lama adalah kepada GoldCoin.

Setelah krismon itu peternakan masih mencoba untuk bertahan, meskipun tidak seperkasa awalnya. Hanya sekedar agar tertutupi saja perputaran uang disana. Karena jika tutup, maka perputaran uang akan jadi berhenti dan bagaimana cara membayar hutang?
Karena hutang yang sangat besar, satu persatu lokasi kandang harus direlakan. Sampai saya SMP, dari lebih dari 4 lokasi, yang tersisa tinggal 1 lokasi. Tanah puluhan hektar juga harus direlakan. Hingga akhirnya tidak lama kemudian usaha peternakan resmi ditutup.

Perputaran uang untuk menutup sisa hutang kini bertumpu pada pemotongan.
Awalnya pemotongan dipasok dari peternakan sendiri, kini harus mengandalkan pasokan dari kota lain seperti Sukabumi. Pemotongan itu masih sempat berjaya karena sempat memasok pasokan ayam untuk KFC selama beberapa bulan. Jadi kalau ada yang bilang KFC ayamnya dari Amerika, mereka bohong. KFC itu pakai ayam dari lokal. Untuk wilayah jakarta, pasokan ayam ditampung di KFC-Gelael Tebet. Standar kebersihannya pun sangat tinggi. Selain KFC, pemotongan itu juga sempat memasok boneless sayap untuk Hoka-Hoka Bento. Ada yang tahu, ada menu HokBen ala carte yang bentuknya sayap tanpa tulang, yang diisi dengan daging ayam lagi lalu digoreng? Nah, dulu pemotongan kami memasok sayap itu. Namun hanya beberapa bulan saja.

Di tahun 2002 kalau tidak salah, kami pun harus melepaskan pemotongan itu dijual ke perusahaan dari Singapura, untuk apalagi kalau bukan bayar hutang. Pedagang ayam pasar yang awalnya tinggal disana harus keluar semua dari wilayah itu, digusur. Mereka beberapa ada yang membuat pemotongan sendiri, ada yang sampai saat ini masih berjualan di pasar, dan sempat bertemu ibu saya waktu ibu saya belanja ke pasar.

Sampai tahun itu, tersisa 3 lokasi aset yang masih bertahan. Beberapa tahun kemudian.......
1 lokasi aset kemudian diserahkan ke GoldCoin untuk melunasi hutang, 1 lokasi aset diberikan ke om untuk dibuat usaha lain, 1 lokasi aset dipertahankan karena disanalah kakek saya tinggal. Dengan demikian habislah semua aset yang dimiliki kakek saya selain yang ditinggali sekarang dan satu aset lagi hasil lelang harta keluarga yang disita bank. Puluhan hektar tanah di berbagai tempat lenyap untuk membayar hutang. Usaha puluhan tahun habis dalam waktu kurang dari 10 tahun. Tapi saya bersyukur, hutang kakek saya lunas.

Saya?
Saya adalah cucu pertama, semua yang saya minta pasti diberikan. Dulu saat kakek saya masih jaya, setiap nenek ke pasar Mayestik, satu dua lembar baju pasti ada yang dibelikan untuk saya. Namun setelah itu? Tidak ada. Yang paling menyedihkan adalah dulu saat semua mobil cantik itu masih ada di garasi, saya selalu ikut kemana kakek nenek saya pergi, dan saya tidur di jok belakang. Namun setelah itu, kakek nenek saya pergi kemana-mana menggunakan angkot. Sesekali saya pun ikut dengan mereka meskipun naik angkot. Meskipun mereka tidak mengatakannya, namun saya merasakan pedihnya jatuh dalam usaha.

Tapi apakah kakek saya kapok menjalankan usaha?
Tidak. beliau masih aktif usaha sampai hari ini. Beberapa tahun lalu masih sempat membuka mini market sendiri. Otaknya masih lebih encer dalam berhitung daripada saya. Intuisinya masih sangat cermat dalam melihat peluang usaha. Ia mengubah halaman depan rumahnya yang luas menjadi lapak-lapak usaha yang disewakan. Rumahnya yang berada di segitiga emas Sawangan membuat lapak itu selalu ramai. hasilnya sangat lumayan. Belasan juta perbulan, hanya dengan duduk manis menagih uang sewa. Bahkan lebih besar pendapatannya dibandingkan pendapatan ayah saya. Meskipun demikian terkadang terasa sedih juga melihat perubahan drastis roda kehidupan yang dialami kakek nenek saya di usia senja.

Kakek saya adalah contoh panutan dalam berusaha. Beliau tidak pernah putus asa, meskipun sempat jatuh. Beliau tidak pernah dendam, meskipun pernah diguna-guna oleh orang yang pernah ditolongnya. Beliau visioner, berani bermimpi dan menetapkan visi misi bertahun-tahun ke depan, tidak hanya saat ini.

Saya masih terus berusaha darinya. Saya hanya berharap kakek nenek saya panjang umur, hingga bisa melihat saya sukses dan memberikan sesuatu pada mereka. Namun saat ini yang bisa saya berikan kepada mereka hanya kelulusan saya dari UI tepat waktu. Ya Allah, semoga mereka masih bisa melihat saya lulus dari S2 UI tepat waktu juga. Aamiin.
Honeymoon? harus banget?
Sebagai orang yang baru nikah, kalau ketemu temen, pasti ada aja yang nanya 'honeymoon kemana ki?'.
honeymoon kemana ya?
ke rumah aja ah.
mungkin saya dan suami adalah satu pasang dari segelintir pasangan yang ga ngambil cuti menjelang dan pasca hari pernikahan.
Sabtu pagi nikah, kamis malam saya masih maksa masuk kuliah jumatnya karena ada praktikum sampai jam 3 sore. Meskipun akhirnya setelah melalui perdebatan panjang dan diceramahi panjang lebar oleh para tetua, saya urung bepergian di jumat itu. Suami pun sama, ga berani minta libur karena baru mulai kerja, tapi dikasih libur jumatnya oleh editornya.
Seninnya?
saya kuliah, suami kerja.
selasanya?
saya ujian, suami kerja luar alias liputan.
life must goes on guys.
bukan berarti setelah menikah lalu hidup kita akan penuh bunga-bunga, manis-manis gitu, malah kebalikannya. setelah menikah semua pola hidup lo akan berubah.

honeymoon?
nanti aja. ada hal esensial lain yang lebih penting daripada menikmati manisnya hidup beberapa hari di pinggir pantai.
Apa itu? Keluarga.
Mungkin karena saya terlahir dan besar di keluarga berbudaya betawi, yang mana slogannya 'makan ga makan, ngumpul', maka keluarga lah yang menjadi fokus utama keluarga kami. Orang yang baru masuk ke keluarga ya harus mulai dibawa masuk, melebur dengan keluarga. Maka sesuai adat, minggunya, sehari setelah akad nikah, saya keliling rumah saudara, membawakan kue dan makanan, door to door. Lalu setelah itu giliran saya yang dibawa 'masuk' ke keluarganya, dengan acara 'ngendong tiga hari' (tujuh hari kalau untuk saya), setelah itu nginep di rumahnya hampir tiap weekend.

honeymoon tiga hari, pulang ke jakarta jadi males kerja karena keenakan liburan. biasa itu.

ketika kita mulai menikah, minggu pertama hingga minggu ke empat itu esensial dalam mengatur ritme kunjungan ke orangtua kedua belah pihak, supaya mereka ga kangen berat. bahkan terkadang untuk jalan ke mall berdua aja harus kita kesampingkan untuk menemani orangtua atau justru ke mall nya bareng orangtua. menikah itu kan bukan untuk menikmati hidup berdua saja, tapi juga untuk memberikan kebahagiaan untuk orangtua. Orangtua ga butuh pemberian berupa materi, dengan kunjungan rutin pun itu membahagiakan mereka.

setelah menikah, pola hidup berubah.
pagi-pagi harus bangun lebih pagi dan lebih buru-buru dari mama, siapin sarapan, bikinin menu yang beda buat bekal suami ke kantor dan bekal saya ke kampus, berusaha mandi secepat kilat, ngatur jam nyuci baju ditengah kesibukan kuliah sambil kerja.
dan yang paling menyenangkan, nunggu suami pulang kerja, cium tangannya, bawain tasnya, nemenin dia makan malam sambil jaga porsi dan nutrisi makanannya (jangan sampe dia makan kebanyakan larut malam begini atau minum yang manis-manis).
itu lebih esensial dibandingkan bermanis-manis tiga hari di pinggir pantai.

buat cewek yang ga bisa honeymoon karena duitnya kurang, ga usah ngerengek ngambek pengen ke bali sebelum hamil.
nerima duit pertama dari suami pas dia gajian itu senengnya luar biasa loh. dan disitu kalian diajak mikir, 'duit kita cuma segini ya? padahal kita butuh nabung buat beli rumah'.
karena menikah itu bukan cuma 'jalan-jalan nginep berduaan ngapain aja halal', namun juga harus menjadi lebih bijaksana. jalan-jalan boleh, tapi, sampe akhir bulan ada uang ga? buat listrik? internet cepet? bolt? makanan sampe akhir bulan? ongkos kamu, ongkos aku?

tiap malam bisa jadi honeymoon koq buat pengantin baru, asalkan ikhlas dan dibawa enjoy aja.
honeymoon, silahkan aja. yang ga bisa honeymoon, woles aja. yang ga punya duit, ga usah ngerengek.
Setelah lama tak punya waktu untuk menulis pengalaman, akhirnya hari ini kesampaian juga. Terakhir menulis adalah beberapa minggu setelah tunangan, sekarang nulis lagi beberapa minggu setelah menikah. :)

Jumat itu saya, yang kebetulan sedang libur kuliah, iseng ikut suami tugas meliput sebuah cafe di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan. Fingertalk Cafe & Workshop, katanya. Suami saya adalah seorang wartawan di salah satu media online. Tugas tematiknya minggu itu adalah tentang kedai unik. Berhubung liputannya belum ditayangkan, jadi saya tidak bisa menayangkan foto yang kami ambil tadi.

Hari masih pagi saat kami berangkat menuju kesana, jam 9 pagi. Kami mengandalkan arahan mbak google maps karena kebetulan saya belum paham betul seluk beluk Pamulang. Mbak Google Maps mengarahkan kami melewati jalan kecil dan berliku, sampai-sampai saya sangsi apakah si mbak maps menunjukkan jalan yang tepat. Namun ternyata si jalan kecil tadi bermuara di jalan yang lebih besar, cukup besar, bisa dilewati 2 mobil pas-pasan. Saya lebih dulu melihat papan nama Fingertalk Cafe yang berada di sisi kiri jalan dibandingkan suami saya.

Ketika masuk, suasana masih sepi. Wajar, saat itu baru jam 10 pagi. Cafe baru buka. Fingertalk terlihat seperti rumah tradisional bernuansa modern. Lapangan parkir, pepohonan seperti di rumah, dan lapangan rumput di tengah bangunan yang membentuk letter U. Rumahnya model jawa tradisional, dengan banyak bagian terbuka dan di desain cukup homey. Mejanya tidak banyak. Dan.....sepi. Sepi, tak banyak suara.

Saat baru tiba, kami cukup lama berada di parkiran, karena menunggu teman liputan suami saya. Sampai akhirnya seorang laki-laki menyambut kami dari arah dalam cafe. Ketika masuk, suami saya menanyakan apakah manager cafe itu ada kepada pelayan, namun, tidak ada yang merespon. baru setelah suami saya memperjelas dengan tulisan, mereka mengarahkan kami ke seorang ibu paruh baya yang sedang berbincang di meja tengah. Dengan gerakan, pelayan perempuan mempersilahkan saya untuk duduk.

Suasananya sepi, tidak berisik seperti cafe pada umumnya.
Mengapa sepi? mungkin karena tak banyak yang bicara.
Alasan kami datang kesini adalah karena konsepnya. Fingertalk Cafe adalah cafe yang seluruh pelayannya adalah penyandang tuna rungu. Saya ingin ikut datang kesini karena saya penasaran dengan konsep dan bagaimana caranya pelayan dan pelanggan berinteraksi.

Di setiap meja, terdapat satu kertas di-laminating yang terlihat seperti kolase foto. Berisikan gambar foto beberapa bahasa isyarat. Di kertas itu kita bisa belajar bagaimana mengucapkan maaf, meminta tolong, minta minuman, minta teh, kopi, meminta tagihan, mengucapkan terima kasih, dan berbagai kata sederhana dalam bahasa isyarat yang mungkin kita gunakan untuk berkomunikasi dengan pelayan cafe. Cara memilih menunya sama saja, kita menuliskan menu pilihan di kertas yang disediakan. Pilihan menunya ya cafe lah. harganya pun standar cafe, bukan kaki lima.

Suami saya mengobrol dengan ibu paruh baya itu, karena kebetulan pemilik cafe & workshop ini sedang tidak berada di tempat. Dari ibu itu, suami saya memperoleh booklet Fingertalk cafe & workshop.

Fingertalk cafe & workshop tersebut didirikan oleh seorang wanita muda pemerhati penyandang tuna rungu. Beliau tertarik dengan bahasa isyarat karena waktu kecil orangtuanya membawanya ke tempat bakti sosial dan seorang penyandang tuna rungu mengajarkannya mengeja namanya dengan bahasa isyarat. Untuk apa mendirikan cafe dan workshop? Tidak lain tidak bukan adalah membantu menyejahterakan para penyandang tuna rungu dengan memberi mereka pekerjaan, memberi ruang untuk mereka berkarya. Di tempat itu, para penyandang tuna rungu dapat bekerja menjadi pelayan cafe, koki, ataupun menjahit dan membuat handycraft. Ya, selain menjual makanan, mereka juga menjual pernak pernik hasil karya para penyandang tuna rungu.

Saat membaca booklet itu, saya terhenyak.
Ya, memang benar. Nyaris tidak ada pekerjaan tersedia untuk mereka yang tuna rungu di kota besar seperti ini. Mau jadi apa? pekerja kantoran? Lulusan strata satu yang normal saja belum tentu bisa masuk perkantoran besar. Petugas Transjakarta? Saya rasa akan sulit. Yang masih mungkin adalah cleaning service. Namun dari segelintir kemungkinan itu, tidak ada yang bergengsi. Hanya penyandang tuna rungu yang beruntung saja, yang memiliki dukungan finansial, support, serta bakat yang mampu muncul ke permukaan. Sisanya?

Sambil menunggu pesanan saya datang, saya berpikir jauh. Apabila saya di posisi mereka, apa yang akan saya lakukan? Apakah saya dapat berguna bagi orang lain jika saya seorang tuna rungu?
Bukan saya iba pada mereka, para pelayan cafe itu, melainkan salut. Salut kepada mereka yang berani untuk tampil ke depan, melayani orang 'normal'. Bukanlah suatu hal yang mudah untuk berkomunikasi jika anda seorang tuna rungu. Karena tidak semua orang normal cukup 'normal' untuk tidak nyinyir ataupun menghina. Namun mereka berani, tanpa malu-malu lagi, tidak minder, menunjukkan bahwa mereka bisa mengerti dan melayani pelanggan, yang normal, yang berbeda dengan mereka.

Ketika saya melihat ke kertas bahasa isyarat di atas meja, saya berpikir, alangkah tertutupnya dunia saya, alangkah tertutupnya dunia mereka, sehingga tidak ada satu kata pun dalam bahasa isyarat yang saya bisa tirukan.

Ya, dunia mereka terlalu jauh dari dunia 'orang normal', sampai sangat sedikit orang yang memahami bahasa isyarat. Bahkan hanya TVRI saja yang menayangkan berita dengan bahasa isyarat di bawahnya. Alangkah sempitnya dunia mereka dibandingkan dunia 'orang normal'. Mengapa tidak ada informasi mengenai bahasa isyarat untuk anak sekolah? Mengapa tidak ada pengajaran mengenai bahasa isyarat di pendidikan umum? Setidaknya, jika ada pendidikan bahasa isyarat untuk umum, biarpun sebentar, kita dapat 'berbicara' dengan mereka, memahami maksud mereka, tanpa perlu kertas. Jika saja demikian, tidak ada jurang pemisah sebegitu jelasnya yang memisahkan dunia 'orang normal' dengan dunia penyandang tuna rungu. Jika saja demikian, mereka tidak akan 'terkucilkan' oleh masyarakat awam.

Lewat tempat ini, saya menyadari bahwa saya benar-benar belum ada apa-apanya. Saya paham bahasa inggris, dapat berbicara dengan orang asing namun saya tidak bisa bicara dengan penyandang tuna rungu yang adalah orang indonesia juga. Saya bahkan tidak pernah bertemu penyandang tuna rungu sebelumnya, dan tidak pernah berkunjung ke panti atau bakti sosial sekalipun! Saya belum pernah berusaha masuk ke dunia mereka! Padahal mereka ada di sekitar kita.

Gadis yang melayani saya sangat ramah. Mungkin sudah lumrah bagi mereka jika orang lain tidak begitu mengerti maksud mereka, namun ia tetap tersenyum manis. Saya mencoba untuk menggerakkan tangan saya mengikuti gerakan yang ada di kertas itu saat saya meminta tagihan. "Berapa?" kata saya sambil menggerakkan tangan. Mungkin gerakan saya kurang jelas, salah, atau mungkin dia tidak fokus, saya pun mengulangi gerakan saya sambil berkata, berapa. Gadis itu mengerti dan sambil tersenyum ia berlari ke belakang meja lalu menghampiri saya sambil membawa tagihan. Saat ia memberikan kembalian, saya mengucapkan terimakasih, namun saya lupa menggunakan bahasa isyarat seperti di kertas. Tapi dia mengerti dan mengucapkan 'sama-sama' dengan caranya.

Saya tidak iba pada mereka, saya salut.
Saya menulis ini bukan untuk menyinggung anda yang tersentil. Hanya saja, hati saya tergelitik oleh kebodohan 'para pemilik modal' kelas teri dan cupang yang semakin banyak dan semakin tersebar di indonesia. Saya hanya ingin mengetuk logika para pemilik modal lainnya, supaya lebih cerdas dan bijak dalam berinvestasi.

Sudah pernah melihat promo investasi dalam bentuk uang? Tanam modal sekian, akan dikembalikan sekian kalinya dalam waktu sekian bulan. Atau tanam modal sekian, akan diberi komisi sekian belas-atau-puluh persennya setiap bulan. Atau cara lainnya.

Apakah anda pernah ikut investasi macam itu?

Di dekat rumah saya ada seorang tukang bubur yang kini membuka jasa investasi. Tanam modal kelipatan 10 juta, akan mendapatkan keuntungan investasi 10% perbulannya. Wow.
Modalnya itu digunakan untuk membuka berbagai lini usaha, yang entah saat ini semua masih berjalan atau tidak. Keluarga saya berkali-kali dibujuknya untuk menanam modal. But no one of us tertarik. Karena kami masih cukup cerdas untuk mengenal yang namanya riba dan kebodohan.
Namun ternyata dia bisa menggaet investor kelas tongkol, tanam modal 500juta.
Sekali waktu, om saya iseng bertanya pada bawahan si tukang bubur, bagaimana mereka memutar modal orang2 yang berinvestasi.
Ternyata mereka memberi pinjaman kepada pedagang-pedagang kecil, 1 juta per orang, lalu dicicil selama 40 hari. Jika dihitung, nilai yang harus dikembalikan mencapai 120% dari yang dipinjamkan.
Rentenir kah ini? Riba sih pasti. Bank aja cuma 10-12% (kpr).

Itu baru yang sistem pengembaliannya dicicil dengan keuntungan 10%.
Bagaimana dengan yang mengembalikan 2x lipat dalam waktu 1-3 bulan?
Lini usahanya apa? Pertanian? Perkebunan? Tambang emas? Atau renternir juga?
Ingat, semua usaha, jika kita melakukan usaha sendiri, tidak mungkin memperoleh keuntungan 2x lipat dari modal. Misalkan bertani, tanam buah naga dengan modal awal tanah, kayu atau beton, besi, dan bibit serta pupuk, modal awalnya misalkan 100 juta, apakah kembali 200 juta dalam waktu 1 bulan? 1 tahun saja baru masa tanam, belum berbuah, sekali berbuah tak sampai 100 juta.
Tanam sawit, untung besar memang, tapi masa berbuahnya itu baru setelah 3,5-5 tahun. Tidak instan.
Pelihara ikan, 10.000 ekor, perlu waktu 1-3 bulan untuk dapat dijual kembali, dan harganya pun tak mungkin 2x lipat dari harga modal.
Pelihara ayam broiler, perputaran uang cepat, 40 hari, namun modal dalam bentuk kandang, DOC, vaksin, obat, makanannya, tenaga kerja, tidak mungkin untungnya berlipat2.
Lalu bagaimana si pemilik usaha investasi dapat memutar uang anda selain dengan menjadi rentenir intelek? Money game?

Anda, sebagai pemilik modal, anda lah yang merupakan rentenir.

Dalih yang diberikan oleh yang memasarkan produknya, adalah dengan menggunakan nama-nama yang telah mendapatkan keuntungan, bahkan seringkali mendompleng nama orang terkenal.
'ah, si A juga investasi trus dapet beneran tuh untungnya sekian'
Ya, selama masih ada orang baru yang tergaet tipu manis mereka, keuntungan akan terus terlihat. Terlebih lagi biasanya orang semakin hari akan menambahkan investasi mereka menjadi semakin besar. Uang itu yang akan diputar-putar. Lambat laun, wallahualam.

Sudah tahu ada lembaga yang bernama OJK? Otoritas Jasa Keungan adalah lembaga resmi yang mengawasi industri keuangan agar tercipta industri keuangan yang sehat. Tahun 2014 lalu, OJK pernah mengeluarkan data perusahaan investasi yang 'bodong' alias tidak berizin mengelola investasi. Tentunya yang semacam ini perlu diawasi.
http://investasi.kontan.co.id/…/ojk-rilis-262-nama-investas…
Bulan november 2014, data ini direvisi kembali untuk beberapa perusahaan, yang belum terdaftar di OJK namun sudah terdaftar di lembaga lain.
http://investasi.kontan.co.id/…/ini-update-daftar-perusahaa…
Saya sangat menyayangkan ternyata masih sangat banyak orang berpendidikan yang masih terpancing investasi semacam itu. Terutama di kota besar seperti jabodetabek, manado, dan kota besar lainnya.
http://www.ojk.go.id/siaran-pers-ojk-gelar-sosialisasi-pera…

Ingat, jangan langsung percaya terhadap produk investasi yang menawarkan bagi hasil alias bunga yang terlampau tinggi. Logika lah, bank aja, bunga depositonya cuma 1-5%. Ini orang biasa koq bisa sampai kasih keuntungan investasi 100%. Pakai jin kah?
Apalagi kalau bilang tak ada resiko investasi.
Ingat, semua lini usaha pasti ada kalanya untung, ada kalanya pas-pasan, ada kalanya rugi.
Lalu, lihat, apakah ada izin usaha? Izin dari siapa? Untuk jenis usaha apa?
Ingat, izin usaha (SIUP) berbeda dengan izin usaha pengelolaan investasi!
Untuk dibaca-baca, sekedar membuat mata hati dan logika terbuka, bacahttp://keuangan.kontan.co.id/…/ini-ciri-ciri-investasi-bodo…
Jangan sampai kita menjadi rentenir intelek.
Atau terkapar karena shock nantinya jika si investasi bodong kabur dengan uang anda.
Ingat, OJK sekalipun tak akan mengembalikan uang yang anda investasikan kepada orang-orang tersebut jika suatu saat terjadi hal yang tak diinginkan.
Lama tak menulis, kali ini saya terpicu oleh sebuah status  yang di share oleh friend di facebook. Tulisan dia tentang OSPEK kampus dan tampaknya yang bersangkutan adalah orang pro-bullying.

Memang, akhir-akhir ini di timeline Facebook saya banyak berseliweran tulisan-tulisan anti-bullying saat ospek dari beberapa komunitas parenting. Mungkin yang bersangkutan tadi (yang tampaknya adalah mahasiswa yang sedang jadi senior) merasa tersentil dengan banyaknya pernyataan anti ospek dan pernyataan calon mahasiswa baru yang enggan mengikuti ospek.

Saya akan mulai dari membahas pandangan orang tersebut mengenai pro bullying di OSPEK. Menurut beliau, OSPEK adalah ajang mahasiswa baru mengenal kehidupan di teknik nantinya. OSPEK mengajarkan bagaimana mahasiswa beretika, mengikuti peraturan, menghormati orang yang lebih tua, 'tidak pernah melawan kepada yang lebih tua', tidak loyo, dan lain-lain. Menurut beliau, fisik dan mental mahasiswa harus ditempa untuk menjadi orang yang 'jadi'. Sekedar sit up atau push up sebagai hukuman itu tak apa. Dan caranya menyampaikan tak lebih dari sekedar pemikiran yang sangat mentah dari anak bau kencur yang cuma sok sebagai senior. Bahkan mendengarkan psikolog dan sosiolog sebagai patokan dalam menilai OSPEK adalah kesalahan, katanya. Bahwa pengalaman senior jauh lebih berarti. Bahwa senior tahu segalanya. Bahwa 'di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung'. Yang dia tidak tahu adalah bahwa seorang senior di kampus adalah anak bau kencur yang bahkan belum dianggap 'orang' di kehidupan nyata.

Saya langsung emosi bercampur tawa membaca tulisannya.

Memori saya langsung menampilkan kenangan-kenangan di masa orientasi kampus saya, MIPA kimia Universitas Indonesia, 2010 lalu.
Di Universitas Indonesia, kami tak dijadikan badut. Tak ada kaos kaki bola warna lain sebelah, tak ada topi aneh, tak ada dot bayi, tak ada tamparan, tendangan, tak ada benda-benda aneh. Saat saya orientasi tingkat kampus, kami diberi materi oleh orang-orang ternama di indonesia, sosiolog pak Imam Prasodjo, motivasi oleh  Prof. Rhenald Kasali, nonton film sarat makna. Yang cukup menantang adalah tugas, tugas membuat sebuat project proposal berkelompok dengan mahasiswa dari berbagai fakultas berbeda dan kita cari sendiri orang-orangnya. Itu jaman saya, sekarang, anggotanya sudah ditentukan. Di hari H, hal yang harus kami patuhi adalah untuk tidak membawa senjata tajam termasuk gunting kecil, tidak membawa kendaraan bermotor pribadi, dan wajib membawa karton buffalo berwarna merah. Itu digunakan untuk membuat pola, sama seperti maba ITB dan UGM. Tak ada tamparan. Hanya dicekoki dengan semangat membela rakyat. Kami harus menghafalkan lagu-lagu perjuangan mahasiswa.

OKK UI (orientasi tingkat universitas) memang tak seberapa berat. Orentasi yang sebenarnya adalah di tingkat fakultas dan jurusan. Saya di MIPA, yang terkenal paling religius, sama sekali tak mendapatkan kekerasan.

OSPEK di MIPA UI sarat makna. Tak ada tas aneh yang kami bawa. Kami hanya disuruh membuat name tag bertali tiga warna yang dikepang (biru-hitam-kuning, biru hitam adalah warna makara MIPA) bentuknya seperti wayang, selain itu harus membuat scrapbook berbentuk baju, jaket kuning lebih tepatnya. Scrapbook tersebut dibuka di bagian depan kekanan dan ke kiri (seperti jaket kuning), sebelah kiri berbentuk seperti jaket kuning, sebelah kanan dihiasi gambar batik handmade, di belakang ditempel karton biru-hitam. Kami datang jam 6 pagi, pulang jam 5 sore. Tugas, jangan tanya banyaknya. Scrapbook tadi diisi dengan tugas-tugas kami yaitu berbagai essay tentang tanggung jawab mahasiswa terhadap rakyat, tentang kebangsaan, dan lain-lain. Semua tugas ditulis di atas kertas bekas dan tulisan tangan. Selama masa ospek itu pernahkah kami dimarahi? Jelas. OSPEK pasti ada tim Komdis (komite disiplin kalau tidak salah) yang siap sedia memarahi kami kalau datang terlambat, tugas tidak diselesaikan dengan benar, atau bertindak tidak sopan. Apakah dihukum dengan kekerasan? Apa harus sit-up dan push up? Tidak. Sama sekali tidak. Paling dimarahi dengan ceramah singkat. Dan konsekuensinya adalah pengurangan nilai untuk mendapatkan predikat IKM aktif. IKM aktif dibutuhkan untuk dapat mengikuti kegiatan organisasi.

Di tingkat jurusan, tugas yang diberikan lebih spesifik bertema kimia. Name tag yang kami buat berbentuk erlenmeyer. Tugasnya seperti membuat peta departemen kimia, membuat jurnal praktikum dan semacamnya. Tugasnya banyak? tentu. Ada satu tugas lagi selain scrapbook dan name tag, yaitu buku perkenalan. Kami diwajibkan berkenalan dengan senior sebanyak-banyaknya, agar bisa menjadi teman dan saling tolong menolong. Kami mewawancarai semua senior yang ada di departemen kimia sebanyak banyaknya untuk mendapatkan datanya dan tandatangannya. Apakah di bully? dikerjai untuk sekedar mendapatkan tanda tangannya? Tidak sama sekali. Mereka dengan senang hati mau diwawancarai. Dengan cara itu, kami belajar berinteraksi dengan orang yang lebih tua, bukan dalam suasana yang menakutkan, namun lebih sebagai teman. Bagaimana cara menyapa orang yang lebih tua dengan sopan, bagaimana membujuk mereka untuk diwawancarai, serta bagaimana tutur kata dan gesture kita selama wawancara, dapat terlatih disana. Senior itu ada untuk membantu juniornya, bukan untuk menjadi boss.

Apakah selama 3 periode orientasi (universitas, fakultas, jurusan) kami disuruh macam-macam secara fisik? lari keliling lapangan? Ditampar? ditendang? Sama sekali tidak. Paling hanya latihan membuat border alias simulasi demonstrasi, bagaimana cara berdemo pro rakyat yang baik dan anti rusuh. Dan bagaimana melindungi tim yang ikut berdemo jika ada penyusup dan rusuh. Orientasi kami sarat makna, bukan fisik. Karena kami adalah kampus perjuangan.

Apakah selama 3 periode orientasi kami disuruh mengenakan pakaian aneh? Sama sekali tidak. Selama jangka waktu 3 bulan sejak awal orientasi, kami mengenakan pakaian yang super sopan. Di mipa biasanya menggunakan kemeja biru bawahan hitam, atau pakaian putih hitam, atau batik. Bahkan jaman saya dilarang menggunakan jeans untuk kuliah hingga masa orientasi selesai. Harus bawahan bahan biasa dan setiap Kamis diwajibkan menggunakan batik.

Apakah kami dimarahai habis-habisan, dibentak sampai nangis dan tekanan psikologis lainnya? Dimarahi iya, namun dalam kadar yang masuk akal, sangat masuk akal. Komdis akan marah jika tugas yang dikerjakan berantakan atau ada pelanggaran tata tertib. Apakah yang dimarahi hanya si pelanggar? Tidak, tapi kami semua dimarahi, kami semua bertanggungjawab, karena kami adalah satu.
Dimarahi, untuk memberi pelajaran bahwa tugas yang diberikan kepada dosen haruslah sudah sempurna. Laporan praktikum yang jumlahnya luar biasa banyak itu dikumpulkan dalam keadaan sudah lengkap, buatan sendiri, tulis tangan, data sudah benar, dan harus tepat waktu. Dimarahi dan dibentak, adalah dua hal yang berbeda.
Apakah dimarahi, berjam-jam hingga ada yang jatuh pingsan? Tidak. Karena saat awal orientasi, kami diwawancarai riwayat kesehatan masing-masing. Berdasarkan riwayat kesehatan, mahasiswa akan diberi pita yang harus dikenakan setiap kali acara ospek, pita hijau, atau kuning, atau merah. Mahasiswa yang memiliki riwayat penyakit cukup beresiko diberi pita merah. Pita merah dibolehkan keluar dari barisan pada sesi komdis. Jika kemungkinan sesi komdis berlangsung cukup lama dan outdoor, maka pita merah harus keluar saat sesi mulai. Jika pusing, maka tinggalkan barisan dan tim medis akan datang membantu. Apa saat sesi komdis kami dijemur? Ya, ada saatnya dijemur, tapi dijemur di tempat yang tidak terlalu panas. OSPEK di mipa ui jauh lebih friendly dan boleh saya bilang tanpa kekerasan.

Baiklah, mungkin kami di kimia memang tak perlu fisik kuat saat bekerja nanti karena kami akan lebih banyak di laboratorium. Tapi rekan kami di mipa lainnya, geografi, mereka butuh kekuatan fisik. Apakah mereka dibully secara fisik untuk mendapatkan 'kekuatan' fisik itu? Tidak.
Bagaimana cara mereka melatih fisik? Mereka ada jadwal jogging bersama keliling kampus setiap jumat sore. Ya, jogging bersama, dengan cara menyenangkan. Bukan tertekan. Jogging itu dilakukan hingga 1 semester kuliah. Otomatis fisik mereka jadi lebih kuat. Dan itu bukan hukuman. Hukuman mereka pun bukan dengan cara-cara aneh seperti sit up atau push up berpuluh kali.

Jadi apakah alasan 'melatih fisik' dengan bullying dapat diterima? Tidak, masih ada cara lain yang lebih menyenangkan dan jelas lebih efektif.

Kembali ke tulisan yang tadi saya katakan masih mentah pemikirannya, ada satu komentar disana yang membandingkan OSPEK dalam balutan bullying di dalamnya dengan kegiatan pramuka. Pramuka membangun keakraban senior dan junior tanpa kekerasan. teamwork diperoleh bukan karena tekanan. Semua orang tau, pramuka tidak didasari dengan kekerasan, ataupun marah-marah, namun mereka berhasil membentuk keakraban, kecekatan, keterampilan, kekuatan fisik.

Jadi apakah alasan keakraban senior-junior, kekuatan fisik, keterampilan akan diperoleh dengan tekanan/bullying saat ospek itu dapat diterima?

Lalu, apakah sebenarnya ospek itu perlu?
Menurut saya perlu, namun dalam kadar yang normal. Tak boleh ada baju aneh dan kekerasan fisik, serta harus wajar.
Mengapa perlu? Di jepang saja orientasinya ga segitunya loh. Cuma pengenalan kampus.
Ya, kalau hendak membandingkan orientasi di jepang, cina, eropa, dll, dengan Indonesia memang sulit. Kita terlebih dahulu harus melihat pola belajar mengajar di SMA di Indonesia dengan di negara-negara seperti jepang dan eropa. Di negara maju seperti jepang, peralihan dari masa SMA ke kuliah tidak terlalu besar, karena pola belajar mereka dari awal sudah menuntut mereka belajar lebih keras dan mandiri. Di negara lain, ada sistem moving class, yang sama seperti kuliah. Maka tak perlu lagi mereka beradaptasi dengan sistem kuliah. Hanya perlu pengenalan kampus saja.
Pelajar SMA di Indonesia masih sangat dimanjakan oleh gurunya. Bisa saya katakan kahwa pelajar SMA di Indonesia sebagian sangat besar belum mampu belajar sendiri, hanya segelintir SMA yang menerapkan pembelajaran mandiri yang membangun karakter dengan tugas seabrek. Bagi sebagian besar, masa SMA itu adalah masa bermain, santai, belajar tinggal dengarkan guru, semua bahan ada di buku, tugas tinggal copy paste internet. Bahkan mungkin mereka tidak tahu apa itu essay, bagaimana membuat essay yang baik. Dengan ospek, mereka dilatih membuat tugas yang seabrek, menggali informasi, membuat tugas sendiri, merangkai kata-kata secara teratur.
Jika nanti pola belajar SMA dan mahasiswa di indonesia tak lagi jauh berbeda, maka ospek dengan berbagai tugas tak lagi diperlukan. Hanya perlu pengenalan kampus.
Tapi perlu digaris bawahi, OSPEK yang saya maksud di sini adalah ospek seperti yang saya alami, yang sarat makna tanpa pembodohan dari senior dan pemborosan waktu serta tenaga untuk hal yang sia-sia.

Ingat, yang membuat peraturan di kampus adalah dosen dan pihak kampus, Bukan senior. Peraturan yang bodoh dari senior tak akan berguna di kehidupan nyata. Di dunia nyata kalian tidak akan ditampar, ditendang, sit up atau push up jika melakukan kesalahan, pun jika atasan kamu melakukannya, kalian bisa tuntut balik.
Senior bukan tuhan, yang perkataannya tidak dapat ditentang.
Senior yang baik seharusnya menampilkan kewibawaan, kecerdasan, keramahan, bukan sok jago dan sok tau.
Coba tanya ke senior kalian itu, ipk nya berapa? Mana yang dijadikan patokan pertama saat saringan lamaran kerja? IPK atau kekuatan fisik dan sok jago?

Lalu, apakah lebih baik jika tidak mengikuti ospek?
Saya rasa itu bukan ide bagus. Di masa ospek, kalian belajar berkenalan dengan orang baru, belajar membaur. Jika kalian tidak ikut ospek, saya yakin tidak akan banyak orang yang kalian kenal. Seberat apapun tugasnya, coba jalani saja. Jika kalian dapat berteman dengan orang lain, ospek tak akan terasa berat. Kalian akan butuh teman selama masa kuliah nanti. Di masa orientasi (dari ospek yang bermutu tinggi) kalian akan belajar cara belajar di kampus itu.

Kepada semua mahasiswa yang merasa akan jadi senior, belajarlah yang rajin. Jangan sok jago. Sok jago kalian itu tidak akan berguna di dunia nyata. Berilah juniormu itu cara survive di jurusanmu, bukan bagaimana cara menjadi badut dengan alasan peraturan senior adalah mutlak. Tamparlah dirimu sendiri sebelum kau menampar orang lain.

Indonesia harus maju, bukan jalan ditempat lalu mundur ke belakang karena mahasiswanya sok jago, sok tau, jadi badut, dididik dengan kekerasan.
Selamat datang mahasiswa baru!

Saya menulis ini sehari setelah pengumuman SNMPTN undangan 2015. Euforianya masih terasa di rumah. Ya, kebetulan adik saya yang juga sedang harap-harap cemas menunggu kabar baik dari kampus yang diinginkan ternyata diijabah doanya oleh Allah. Selamat datang di kampus perjuangan! 

Sistem penerimaan mahasiswa baru beberapa tahun belakangan ini berbeda dengan saat saya mendaftar S1 dulu. Zaman saya dulu, tidak ada yang namanya undangan. SNMPTN kala itu hanya satu, tertulis. Tahun 2010 adalah tahun terakhir SNMPTN hanya tertulis, karena mulai dari tahun 2011 ada sistem penerimaan melalui SNMPTN undangan, tanpa tes. Tahun itu juga tahun terakhir ITB menyelenggarakan ujian masuk. Kalau UI, dari tahun ke tahun memang terlihat enggan mengambil mahasiswa lewat SNMPTN, jadi SIMAK UI terus terlaksana.

Dua tahun terakhir bahkan penerimaan mahasiswa baru lewat SNMPTN undangan lebih merata. Semua siswa boleh mendaftar, 2 pilihan. Namun tetap saja, lolos atau tidak ke kampus idaman tergantung pada nasib baik atau buruk.

Saya yakin, semua yang diterima lewat SNMPTN undangan sedang berbahagia. Sebagaimana saya berbahagia karena murid saya banyak yang diterima.

Beberapa bulan lalu, mereka sibuk bergalau ria. Bingung menentukan jurusan yang akan diambil lewat SNMPTN undangan. Kalau mereka bertanya pada saya, maka akan saya tanya balik pada mereka, apa yang mereka impikan. Kalau mereka bertanya kepada rekan saya sesama pengajar, mereka akan diberi saran jurusan dan universitas yang memungkinkan untuk nilai mereka, dengan passing grade yang rendah. Saya juga pernah membuat tulisan di blog ini mengenai pilihan jurusan kuliah. Mengapa saya menganjurkan anak-anak untuk memilih dan berjuang di bidang yang diinginkan? Agar mereka fokus, dan tidak menyia-nyiakan waktu dan uang.

Bagi siswa yang memiliki kemampuan belajar menengah, untuk mendapatkan slot di SNMPTN undangan saja sudah sangat bersyukur. Tapi yang saya khawatirkan adalah anak-anak yang ikut SNMPTN undangan hanya untuk coba-coba, cadangan. Adakah yang seperti itu? Ya, ada saja.

Saya ambil ilustrasi, anak A sangat pintar, siswa dari sebuah SMA yang sangat terkenal akan prestasi muridnya. Ia ingin masuk ITB. Kita sama-sama tahu, passing grade ITB sangat tinggi. Si A minder dan tidak yakin ia dapat lolos ITB lewat SNMPTN undangan. Jadi supaya dia punya cadangan, ia ambil UI di SNMPTN undangan, lalu ITB di SBMPTN. Jadi, kalau dia tidak lolos ke ITB lewat SBMPTN, maka dia tetap punya prestige, UI.

Untunglah UI punya kebijakan, 'siswa yang diterima lewat SNMPTN undangan namun tidak mengambil jatah kursinya itu, harus membayar penalti (kalau tidak salah) 100 juta rupiah, dan sekolahnya akan diberi sanksi tidak akan mendapat jatah kursi untuk jurusan yang ditinggalkan oleh siswanya itu selama beberapa tahun ke depan'. Ya, itu adil. Dengan demikian sekolah harus memberi pendampingan kepada siswa yang berpotensi serakah dalam memilih jurusannya. Tapi saya tidak tahu, apakah aturan ini berlaku nasional di seluruh universitas negeri, atau hanya UI.

Saya menilai aturan penalti ke siswa dan sekolah itu cukup baik dilakukan, karena siswa yang seperti itu sudah mempermainkan kesempatan orang lain. Bayangkan, kursi yang hanya menjadi cadangannya, yang ia tinggalkan itu, mungkin akan sangat berharga bagi siswa lain yang tidak lolos karena pihak kampus memilih dia. 

Saya ingat saat kelas 3 dulu, guru kesiswaan mendatangi saya diam-diam. Saya dulu masuk ke dalam 3 besar peringkat paralel di sekolah saya. 
Pertama, yang beliau tanyakan adalah : kamu sudah punya pilihan jurusan belum?
Saya jawab sudah, karena saat itu hati saya sudah mantap ke teknik perminyakan atau ke aviasi.
Kedua : Sudah ada universitasnya? sudah daftar?
Saya jawab sudah, karena saya saat itu sudah punya cadangan ke Trisakti.
Ketiga : Ada rencana ambil PTN? Universitas apa? UI?
saya jawab ga mau UI bu, mau ambil ITB.
Lalu beliau menyudahi pembicaraan dengan tersenyum.
Selidik punya selidik, ternyata sekolah saya diberi 6 slot pendaftar PPKB, beliau sedang memilih anak dengan keinginan yang besar dan berkemampuan untuk masuk UI. Karena saya tidak berpikir untuk masuk UI, ibu itu tidak memberikan slot pendaftar pada saya. Padahal kalau saya ambil saya yakin bisa lolos (bah, sombongnya. haha)
Guru wali kelas saya juga pernah bilang, kalau sudah dapat satu, jangan serakah kejar yang lain, karena kalian akan menutupi jalan orang lain, seperti yang saya bilang di atas.

Karena itu saya bilang ke anak-anak, pilih jurusan di SNMPTN undangan itu jangan hanya karena jurusan itu passing grade nya rendah, tapi pikirkan, apa yang kamu inginkan. Jangan sampai jika kamu lulus disana, tapi karena itu bukan yang kamu inginkan, lalu kamu tinggalkan begitu saja.

Kalau swasta dijadikan cadangan, saya rasa tidak terlalu masalah, karena siswa yang mengejar universitas swasta  tidak terlalu banyak, dan masih ada jalur penerimaan lain setelah penerimaan melalui SBMPTN diumumkan, jadi mereka masih punya waktu untuk mencari mahasiswa.

Ya, pokoknya saya ber-positive thinking untuk mereka yang diterima. Semoga kalian bisa menyerap ilmu di perkuliahan nanti dengan baik, dan dapat kerja yang terbaik, untuk orang tua kalian juga. Ingat, jangan sia-siakan waktu dan uang yang dicari dengan susah payah oleh orang tua kalian.

Selamat datang, pahlawan muda!
Kak, kuliah di kimia itu ngapain aja sih? Belajarnya apa aja sih?

Pertanyaan itu sering kali ditanyakan pada saya oleh para siswa, terutama kelas 12. Maklum, tak banyak orang yang tahu apa yang dipelajari di MIPA, untuk apa, dan nanti kerjanya nanti apa. Oleh karena itu tidak banyak orang yang memilih fakultas MIPA sebagai pilihan pertama saat SNMPTN atau SBMPTN, termasuk saya dulu. Jika muncul pertanyaan itu, saya akan dengan senang hati dan antusias menjelaskan kepada mereka tentang jurusan Kimia MIPA, terutama tentang almamater saya, Universitas Indonesia.

Anak mipa, biasanya jadi serba bisa. Bisa Kimia, tambah dengan Fisika, Matematika, dan Biologi. Ya, karena MIPA memang selalu diawali dengan mata kuliah wajib fakultas, yaitu matematika dasar, fisika dasar, biologi. Jadi kalau niat masuk kimia untuk menghindari fisika, well, anda salah besar. Belajar kimianya sendiri lebih fokus setelah memasuki semester 3 atau 4.

Praktikum, laporan banyak dan tulis tangan, menjadi  makanan sehari-hari anak mipa, kimia terutama. Belum lagi tugas makalah, presentasi, poster, dan lain-lain.

Mahasiswa mipa, kimia dalam hal ini, fokus bahasan dalam penelitian atau pembelajarannya bukan hanya mengenai mengubah suatu zat jadi zat lain serta berapa persen keberhasilan atau rendemennya, melainkan lebih ke ‘mengapa bisa terjadi produk itu’, strukturnya, mekanismenya, bentuk fisiknya secara mikroskopik, dan hal lain yang lebih fundamental. Produknya memang tak terlalu terlihat di kehidupan sehari-hari, melainkan biasanya menjadi basic dari produk yang ada di pasaran.

Kuliah di Kimia, tidak hanya ada 1 bahasan saja, tapi terbagi-bagi menjadi berbagai peminatan. Jadi jangan pikir dengan menjadi lulusan Kimia, seseorang pasti tahu segalanya tentang kimia. Tidak. Yang kita ketahui adalah kimia secara umum alias dasar (tentunya hukum dasar yang wajib diketahui dan dijadikan dasar panalaran), lalu selebihnya tentang peminatan yang kita ambil. Di departemen kimia UI, terdapat  5 peminatan, yaitu Kimia Anorganik, Kimia Organik, Kimia Analisis, Kimia Fisik, dan Biokimia. Di universitas lain, biasanya biokimia terpisah menjadi satu jurusan sendiri.

Pada masa awal kuliah, mahasiswa akan diajak untuk belajar kimia secara umum dan diberi bekal awal untuk masing-masing peminatan. Jadi selama semester 1 dan 2, mahasiswa akan belajar mata kuliah wajib fakultas dan universitas, semester 3 dan 4 mulai belajar kulitnya kimia, yaitu kimia organic dasar, dasar-dasar anorganik, dan peminatan lainnya. Mulai dari semester 5 hingga lulus, mahasiswa sudah menentukan arah minatnya ke bidang apa, sehingga mata kuliah yang diambil sebaiknya menunjang penelitiannya kelak. Namun bukan berarti mahasiswa yang minat biokimia tidak boleh mengambil kuliah tentang nanomaterial, boleh, tentu saja boleh, dan justru bagus karena dapat memperkaya wawasan. Tidak jarang juga ada mahasiswa mengambil tema penelitian tidak terlalu sejalan dengan mata kuliah yang diambilnya.

Masa penelitian, adalah masa yang paling keren bagi seorang mahasiswa mipa. Karena pada waktu-waktu itu kita merasa seperti benar-benar menjadi ilmuwan sejati. Hahahaha.

Penelitian di Kimia UI dikelompokkan menjadi beberapa grup riset. Mahasiswa yang berminat melakukan penelitian di bidang ilmu biokimia dapat memilih 4 kelompok tema riset yaitu Bioinformatik, enzim, toksikologi, atau aktivitas biokimiawi dari ekstrak buah bligo. Saya sendiri memilih grup riset bioinformatik di bawah bimbingan Prof. Usman S.F Tambunan untuk penelitian saya. Enzim, atau grup riset AERG yang dibimbing oleh Prof. Sumi Hudiyono, penelitiannya berkisar pada imobilisasi enzim pada struktur nanomaterial.

Mahasiswa yang berminat di bidang Anorganik, dapat memilih riset mengenai organometal dengan dibimbing dr.rer.nat Agustino Zulys atau di bawah payung riset grup SIF yang risetnya ke arah zat padat seperti zeolite.

Mahasiswa yang berminat ke arah kimia fisik dapat memilih grup riset NIC, yang risetnya di bidang nanomaterial, atau grup bioelectrochemistry, atau dengan beberapa dosen lain.

Mahasiswa yang berminat ke bidang kimia organic dapat memilih untuk riset mengenai bahan alam, atau riset mengenai polimer.

Sementara mahasiswa yang berminat ke bidang kimia analisis bisa memilih riset mengenai kimia lingkungan, atau tentang titanium dioksida.

Lalu, riset apa sih yang dilakukan di grup riset itu?

Biasanya, saya akan menjelaskan secara umum riset yang dilakukan di grup riset, tentunya dengan bahasa yang mudah agar siswa tidak bingung.

Mulai dari grup riset saya, bioinformatik. Di bioinformatics research group, penelitiannya dilakukan menggunakan program-program bioinformatik di computer. Grup riset ini menggunakan program bioinformatik untuk merancang senyawa baru yang akan direaksikan secara virtual dengan enzim-enzim yang menjadi target pengobatan beberapa penyakit. Bisa juga menggunakan senyawa yang sudah ada seperti bahan alam. Tujuannya, adalah untuk memperoleh kandidat obat baru. Metode bioinformatik ini adalah salah satu cara untuk mempersingkat waktu dan menghemat biaya penelitian bidang farmasi. Kalau secara konvensional seorang ilmuwan bidang farmasi harus mengsintesis banyak senyawa baru untuk kemudian baru diuji reaktifitasnya dengan enzim target, dengan metode bioinformatik, tahap yang menyita banyak waktu dan dana itu dipersingkat sehingga ilmuwan hanya tinggal mengsintesis senyawa yang secara teori dapat bereaksi dengan enzim yang diinginkan serta tak menimbulkan efek buruk lain bagi tubuh. Baru setelah itu diuji dengan metode in vitro. Karena berada di bawah payung departemen kimia, fokus penelitian di grup ini bukan hanya memperoleh kandidat obat baru, melainkan juga membahas interaksinya secara kimiawi dengan enzim targetnya.

Grup riset tetangga, AERG, applied enzyme research group (maaf kalau salah tulis) risetnya berkisar pada mengimobilisasi atau bahasa awamnya ‘menempelkan’ enzim ke struktur nano material, agar dapat digunakan berulang di industry. Karena kalau enzim tidak diimobilisasi, pemisahannya dengan produk akan sulit dilakukan sehingga tingkat keberulangan pemakaiannya rendah. Riset ini sedang dikembangkan di berbagai Negara, biasanya ditujukan untuk keperluan industry pangan atau obat.

Toksikologi, risetnya berkaitan dengan penghilangan zat toksik dari makhluk hidup yang menjadi makanan manusia seperti kerang laut yang dibudidaya di laut berlimbah tinggi, dan satu tema lagi yaitu tentang DNA adduct. DNA adduct adalah DNA kita yang telah mengalami kerusakan. Kerusakan itu timbul akibat reaksi DNA dengan zat lain yang merupakan hasil metabolisme zat-zat aditif yang toksik. Kalau DNA sudah berubah akibat reaksi itu, maka dikatakan DNA itu mengalami mutasi, mutasi DNA akan mengakibatkan kelainan pada tubuh, biasanya berupa kanker. Riset toksikologi ini diampu oleh bapak dr.rer.nat Budiawan.

Bidang lain yang peminatnya lebih banyak adalah bidang kimia fisik. Di peminatan kimia fisik ini, terdapat 2 grup riset yang mendominasi yaitu NIC (nano interfacial chemistry) dan bioelectrochemistry. Grup riset NIC, risetnya memiliki tujuan akhir yaitu untuk adsorpsi limbah beracun. Adsorpsi loh ya, bukan absorpsi. Adsorpsi tersebut dilakukan dengan menggunakan zat nanomaterial. Mengapa nano? Karena semakin kecil bentuknya, semakin besar total luas permukaannya, sehingga otomatis semakin tinggi kemampuannya untuk berinteraksi dengan zat lain.

Kalau mendengar kata elektrokimia, mungkin akan terbayang rangkaian elektroda ya.  Grup riset bioelectrochemistry, menggunakan prinsip elektrokimia dari reaksi suatu enzim yang berperan dalam pengembangan suatu penyakit dengan substratnya. Risetnya banyak dilakukan di jepang karena grup riset ini berkolaborasi dengan salah satu universitas di jepang.

Riset lain yang menarik adalah dari grup riset SIF. Grup riset yang cukup digemari mahasiswa ini menggunakan berbagai zat padat seperti zeolite untuk dikembangkan menjadi zeolite berukuran pori tertentu. Zeolit tersebut akan digunakan untuk mengadsorpsi zat limbah. Pengembangan lanjutannya adalah untuk sensor limbah.

Keren kan? Biasanya setelah saya jelaskan ke siswa tentang tema penelitian dan tujuan akhirnya, mereka akan bilang…”keren banget kak, jadi pengen deh, tapi……..”

Well, ya….meskipun masih ada kata ‘tapi’nya, setidaknya saya sudah memberikan gambaran kepada mereka bahwa mipa tak ‘segelap’ dan ‘tak banyak gunanya’ seperti pikiran awal mereka.
Masih banyak lagi riset di departemen kimia UI yang menarik untuk diketahui. Banyak, karena itu saya tak bisa jelaskan satu  per satu. Namun kebanyakan riset di kimia ui mengarah ke pengelolaan limbah, atau riset ke arah bahan yang ramah lingkungan.

Biasanya akan ada pertanyaan lanjutan,

Kak, bedanya Kimia sama Teknik Kimia apa sih?

Ya, masih sangat banyak murid yang tidak mengerti perbedaan kedua jurusan ini. Beda loh, beda skala, beda cara pandang.

Kimia mipa biasanya targetnya adalah mendapatkan produk baru, teori baru, dengan skala kecil. Lengkap dengan mekanisme dan hal-hal fundamental lainnya.
Teknik kimia, target utamanya adalah jumlah dan alur. Bagaimana cara menghasilkan zat A sebanyak-banyaknya dengan efisien, cara apa yang digunakan, dan kalau perlu prototype. Hasil dari riset orang teknik biasanya akan lebih kasat mata, alias lebih besar dari ukuran maupun jumlah. Mekanisme, tak akan menjadi konsen dalam penelitian anak teknik, yang penting hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Lalu, akan muncul lagi pertanyaan,

Terus kak, kerjanya anak kimia nanti apa? Guru?

Nah, ini dia. Masih sangat banyak siswa yang berpikir mipa itu akan berakhir jadi guru atau dosen. Padahal, di angkatan saya saja, yang menjadi guru bisa dihitung dengan jari tangan. Biasanya anak kimia akan masuk ke industry. Industri yang biasanya membutuhkan banyak anak kimia adalah industry polimer dan cat.
Lulusan kimia, bisa ditempatkan di bagian QC atau RnD (research and development). QC bertugas memastikan produk yang keluar dari hasil produksi sudah sesuai dengan standar. RnD bertugas mencari formulasi produk baru. Misalnya, hasil riset orang-orang bagian pengembangan produk bilang konsumen sekarang menginginkan cat yang hasilnya bisa dibersihkan dengan mudah. Maka tim RnD akan membuat formula produk baru yang sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Nah, setelah formula baru selesai dibuat, adalah tugas anak teknik kimia untuk membuat skema produksi massal dari produk baru tersebut.

Yap, begitulah kira-kira gambaran yang saya berikan mengenai jurusan kuliah. Mereka harus tahu, di dunia ini, yang menarik dan menjanjikan bukan hanya fakultas teknik saja. Banyak di luar sana, jurusan-jurusan yang bisa mereka masuki, kalau mereka memang niatnya ingin kerja. Tak perlu berjibaku sikut-sikutan memperebutkan jurusan tertentu. Pun nanti setelah lulus S1 bisa lanjut S2 di teknik koq.


Kimia, mipa, memang masih dipandang sebelah mata oleh siswa. Biarkan lah, yang penting mahasiswanya bisa terus berkarya membantu terciptanya sesuatu yang dapat berguna untuk ilmu pengetahuan dan masyarakat. 
Setiap kali bertemu dengan orang baru, yang baru tahu pekerjaan ayah kami, selalu saja ada raut kekaguman sekaligus nyinyir dari mereka. Suatu hari, ibu saya sedang bicara dengan seorang sales mobil yang membuka pameran di lahan milik kakek saya. Kebetulan, ibu saya membuka usaha warung makan dan catering, untuk mengisi waktu dan membiayai kehidupan kami sehari-hari di depok.

Sales 1 : Ibu ga tinggal disini? (di rumah nenek maksudnya)
Mama : Nggak, disini cuma orang tua aja.
Sales 1 : Ibu tinggal dimana? 
Mama : Telaga Golf .
Sales 1: Wah, orang kaya dong bu.
Mama : Ah, ga semua orang yang tinggal di Telaga Golf kaya kok mas.
Sales 2 : Gimana sih lo, liat aja tuh mobilnya, Honda City. Pasti orang kaya lah.
Sales 1 : Iya juga ya. eh bu, emang bapak kerja apa bu?
Mama : Suami saya hakim di kalimantan.
Sales 1 : Oooooh, pantesaaaan. Hakim. Banyak uang lain-lainnya ya bu.

Ya, seringkali begitu. Padahal, bagi kami, kehidupan kami begitu penuh dengan permasalahan uang. Terlambat bayar uang kuliah, terlambat bayar listrik, terlambat bayar rumah, dan keterlambatan lainnya. 
Ayah saya adalah orang yang sangat tegas dan penuh pendirian. Ia tak terima sogokan atau ucapan terima kasih. Kalau ia terima, ibu saya tak perlu jualan nasi. Ayah saya hanyalah satu dari 7500 hakim di Indonesia. Dari jumlah itu, ada banyak yang berprinsip sama seperti ayah saya, sebagiannya lagi berprinsip sama seperti yang orang-orang pikirkan.

Hakim selalu disorot. Hakim adalah pekerjaan mulia yang dicap negatif. Tak banyak orang yang tau di luar sana banyak hakim yang hidupnya susah. Ketika saya masih SMP, saya pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti tugas ayah. Ada hakim yang sudah 11 tahun menjadi hakim bahkan rumah pun tak ada. Rumahnya merupakan pemberian mertua. Dengan perabotan yang minim, kebanyakan dari plastik. Padahal image hakim, adalah pekerjaan yang mudah mendapatkan uang tambahan. Tidak. Tidak bagi para hakim yang bersih.

Hakim adalah pejabat negara termiskin di Indonesia. Dengan gaji yang mirip bahkan setara dengan guru, meskipun tunjangannya kini cukup besar. Tunjangan plus gajinya per bulan berkisar 15-17 juta untuk hakim biasa, 20-25 juta untuk kelas wakil dan ketua pengadilan. Namun saat pensiun, yang diterima sama besar dengan guru, 3,5-4 juta. Tapi menjadi hakim itu pengeluarannya juga banyak. hakim tak boleh punya rumah dulu. Kenapa? karena kami pindah-pindah. Hakim Pengadilan agama mutasi setiap maksimal 2 tahun sekali. Mutasinya tak tanggung-tanggung. Bisa dari tempat satu ke tempat lain yang bahkan berbeda pembagian waktu. Di tempat baru, tak disediakan rumah dinas, kecuali untuk ketua, atau di tempat-tempat super terpencil atau super terluar Indonesia, contohnya, di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Bahkan di awal tahun 2000an, hakim di salah satu wilayah di NTT yang kering, harus membawa-bawa derigen ke kantor untuk mengambil air. Hakim yang mengontrak rumah, meskipun rumah yang dikontrak tak ada isinya, lebih baik tak diisi banyak perabotan. Isi saja seadanya. Kenapa? karena nanti akan ditinggal juga. Beli meubel 2 juta, set tempat tidur dan lemari 5 juta, piring gelas 500ribu, TV 2 juta, kulkas 3 juta, tapi nanti saat harus berangkat lagi, semua diobral. Kasur lengkap dengan lemari 700ribu, meubel 500ribu, dan bantingan harga lainnya. Uang penggantian pindah dari Mahkamah Agung tak mencukupi untuk membeli perabotan lengkap, pastilah keluar uang sendiri. Jadi rugi lah kita kalau beli banyak barang.

Banyak hakim yang memilih untuk meninggalkan anak istrinya di kampung halaman sementara ia merantau keliling Indonesia. Ini menimbulkan masalah baru. Beberapa bulan lalu saya lihat headline di salah satu media massa, yaitu tentang kasus perselingkuhan sesama hakim. Inilah akibat dari meninggalkan anak istri di kampung halaman sementara ia sendirian di tempat baru. Tapi kalau harus membawa anak istri, biaya akan membengkak 3 kali lipat. Belum lagi rumah di kampung akan terbengkalai. Tetap saja, ini tak boleh dibiarkan.

Hakim, tak akan punya apa-apa kalau tidak berhutang. Ayah saya sedang mencicil rumah, dan mobil yang orang bilang mewah, serta membeli tanah untuk modal tabungan hari tua, semua dari berhutang. Kalau ada hakim yang mengaku punya ini itu tapi beli cash, anda boleh mencurigainya.

Hakim ada yang memata-matai. KPK berhak menyadap, menyelidiki seorang hakim, karena hakim adalah pejabat negara. Setiap akhir menjelang awal tahun, ayah selalu sibuk menulis daftar kekayaan. Saat awal jadi hakim, list hutang lebih banyak dari list kekayaan. Alhamdulillah sekarang setelah tunjangan hakim turun, daftar kekayaan kami bertambah beberapa halaman, tentu saja diikuti juga dengan penambahan halaman daftar hutang.

Ini yang membedakan hakim dengan PNS biasa. Hakim adalah pejabat negara, yang kapanpun bisa dimata-matai KPK. Tapi tidak dengan PNS.

Sebanyak apapun PNS korupsi, rekeningnya tak akan ditelusuri KPK. Enaknya jadi PNS. Duit haram banyak, tak ada yang larang.
Ayah saya selalu bilang, PNS itu gajinya bisa dihitung. Kalau ada suami istri yang keduanya PNS, gaji suami 8 juta, gaji istri 8 juta, berarti totalnya 16 juta. Jika rumahnya seharga 750 juta, dengan cicilan 6 juta per bulan selama 10 tahun, ditambah 1 mobil 7 seater yang saudaranya dimana-mana dengan harga cicilan 3,5 juta setiap bulan 5 tahun, ditambah motor untuk 2 anaknya, masing-masing cicilannya 750ribu, gajinya masih ada sisa sekitar 5 juta untuk foya-foya, itu masih terbilang wajar.
Tapi kalau hanya pns biasa yang gajinya 5-6 juta, dan hanya suami yang bekerja, plus bukan dari keturunan keluarga kaya raya tiba-tiba punya rumah bagus, mobil 1 motor 2, gelang, cincin, apartemen, tanah berhektar-hektar, wajar kah?

Korupsi di negeri ini sudah mendarah daging.
Tak ada tender tanpa permainan di belakangnya. Tender itu bukan hanya mainan atasan, bawahan juga pasti bermain. Atasannya kena tersangkut korupsi, bawahannya lolos. Bawahannya lalu akan melanjutkan sistem kotor bin ajaib yang sudah ada dan mendarah daging itu.

Korupsi di negeri ini sudah mendarah daging.
Bahkan penegak hukum saja tersangkut kasus. Polisi, semakin tinggi pangkatnya, semakin gemuk dan buncit perutnya, semakin gendut pula rekeningnya. Sudah hal yang lumrah, kalau jenderal polisi punya villa dimana-mana, mobilnya sekian, tanahnya ratusan hektar. Alasannya, dari uang usaha, bukan korupsi. Saat ini banyak jenderal yang diberi pangkat komisaris perusahaan besar oleh si empunya. Wajar saja kalau pendapatannya membengkak. Tapi apakah wajar? Kenapa memberi jabatan penting seperti itu ke orang yang tidak mengerti bisnis? Ya apalagi kalau bukan 'memberikan jaminan keamanan bisnis'. Tidak salah, tapi tidak tepat. Bukankah yang seperti itu namanya penyalahgunaan wewenang? alias punya unsur kolusi dan nepotisme. itu yang jenderal. Yang bawahan, mungkin kalian sering mendengar "kalo lo ada masalah, lo hubungin om gue aja, dia polisi di polres X, ntar dibantuin sama dia". Tak sadarkah kita itu juga bentuk KKN?

Korupsi di negeri ini sudah mendarah daging.
Tak hanya diam-diam, korupsi, kolusi, nepotisme di berbagai sektor dilakukan berjamaah. Menghabiskan anggaran di akhir periode, dengan jalan-jalan berjamaah ke luar negeri, acara penyuluhan alakadarnya dengan anggaran luar biasa, dan trik lainnya, bukankah menjadi sesuatu yang lumrah? Tapi, apakah yang lumrah itu diperbolehkan?

Mungkin itu sebabnya banyak orang yang rela nyogok ratusan juta untuk jadi pegawai negeri. Kalau bukan itu, apa lagi? Kalau nyogok 100 juta, setiap bulan menyisihkan 1 juta, 100 bulan baru bisa balik modal. Ya kan?

Tak hanya satu orang, PNS yang lebih kaya dari saya sekeluarga. Padahal orang tua saya banting tulang keduanya, dengan pendapatan pokok per bulan yang jauh lebih besar. Memang, kita tak boleh berburuk sangka. Tapi kalau memang ada yang begitu di sekitar kita, bukankah tugas kita untuk memperingatkan? Kasihan dia di alam berikutnya nanti.

Sama halnya seperti hakim, saya juga yakin masih banyak PNS yang jujur. Hanya saja, bagaimana caranya agar yang jujur ini menduduki jabatan agar jujurnya terbawa ke bawahanya,

Adik saya bilang "kak, pokoknya, diantara kita, ga boleh ada yang jadi orang di pemerintahan. Pemerintahan itu kotor, ga jelas halal apa ngga uangnya".

Kita butuh orang baru, yang belum tercemar pikirannya, untuk membawa negeri ini menuju perubahan. Siapa? entahlah. Saya bahkan tak yakin mahasiswa-mahasiswa yang sekarang berkoar masih akan bersih putih jika mereka menduduki jabatan nanti.
Saya tak mau suuzon.
Saya ingin optimis. 
Tapi keadaan membuat saya semakin pesimis.
Hampir 4 tahun saya mengajar di bimbingan belajar untuk SMA. Setiap awal semester, apalagi mendekati UN, saya selalu bertanya kepada siswa, terutama kelas 3, kalian ingin kuliah apa dan dimana dan mengapa?

Setiap tahun pola jawabannya berbeda.
Dua tahun lalu, sebagian besar siswa yang saya tanya akan menjawab 'kedokteran, kak'. Dimana? 'pengennya sih UI atau UGM atau UnPad kak'. Padahal saya tau, mereka yang saya tanya itu sebagian besar kemampuan daya tangkap dan ketahanan belajarnya boleh dibilang belum mumpuni untuk masuk kedokteran. Hal yang saya, pengajar lain, dan bos takutkan adalah, mereka memaksa ingin masuk kedokteran tapi akhirnya gagal dan jadi luntang lantung. Akhirnya dibuatlah penyuluhan yang intinya kalau ingin jadi dokter, harus benar-benar bekerja keras, lihat ke dalam diri kalian dulu, kalau memang sungguh-sungguh ingin jadi dokter, PTN itu ga hanya UI, UGM, Unpad, masih banyak yang lain yang passing gradenya lebih rendah dibandingkan yang tiga itu, atau mungkin juga kalian bisa memilih universitas swasta yang bagus juga kedokterannya, semisal Trisakti, Yarsi, dan masih banyak lagi. Akhirnya satu per satu mulai mencari jalan lain. Tujuannya : teknik!
Tahun berikutnya, trend jawabannya berubah. Mau masuk mana? "UI kak" jurusan apa? 'teknik kimia kak / teknik industri kak'. Sebagian besar anak jawab ingin masuk teknik kimia dan industri UI. Alasannya, klasik. 'pengen kerjaan yang gajinya gede kak'. Padahal mereka tidak tahu apa yang dipelajari di jurusan itu, apa yang harus dilakukan para lulusan sehingga gajinya jadi besar begitu.
Tapi tahun ini, jawaban anak-anak itu bervariasi, dari mulai universitasnya, maupun jurusannya. Baru tahun ini, saya menemukan jawaban 'ilmu gizi ipb kak', atau 'manajemen pertanian ipb kak', atau 'teknik pertanian ipb kak,' atau 'teknik mesin ITS kak', atau 'kedokteran UNS kak'.

Dalam hati saya bersyukur, karena mereka yang sekarang ini sedang kelas 3 SMA di bimbingan belajar tempat saya mengajar tidak melihat hanya dari nama universitas dan nama jurusannya, melainkan lebih dalam lagi, tentang prospek dan pelajaran yang dipelajari.

Sebelum mereka mulai intensif persiapan UN, sudah saya wanti-wanti "kalian pikirkan, kerja seperti apa yang ingin kalian kerjakan, kehidupan seperti apa yang ingin kalian rasakan nanti". Kalau teknik kimia dan semacamnya, (jika para lulusan nanti bekerja sesuai bidangnya) akan lebih banyak di pabrik, atau di lapangan, meskipun ada juga yang di kantor. Kalau akuntansi, pasti di kantor. Kalau perminyakan, siap-siap keliling. Teknik industri lebih fleksibel bidangnya. Kira-kira seperti itu gambaran umum pekerjaan yang saya beri tahu.

Mereka, yang tahun ini, menurut saya, tidak terlampau egois dalam merencanakan masa depan mereka. 'gue mau masuk tenik pertanian biar bisa bantu memajukan pertanian indonesia nanti kak, indonesia lagi mau swasembada pangan kan katanya'. Saya terketuk. Akhirnya ada yang berpikir seperti ini. Bukan cuma berpikir 'gue mau kerjaan gue nanti gajinya gede kak' seperti biasanya. Ya, meskipun masalah gaji dan pekerjaan tergantung pada lamaran kerja dan perusahaan nanti.

Masa SMA adalah saat-saat kita menentukan jalan hidup ke depan, bukan saat kuliah. Kalau si anak sayang orang tua, ia akan memikirkan baik-baik jurusan yang ia inginkan. Jangan sampai baru satu-dua semester kuliah sudah merengek minta pindah kampus karena ga kuat, atau bukan ini yang diinginkan. Konsekuensi pindah kampus, ya uang yang sudah dibayarkan sebelumnya akan sia-sia kan? uang untuk menyekolahkan keperguruan tinggi kan tidak sedikit. Lagipula waktu 1 tahun itu sangat berharga.

 Mengapa saya katakan, SMA adalah saat penentuan, bukan kuliah? Karena pada saat melamar pekerjaan nanti, yang terlebih dahulu dilihat adalah latar belakang pendidikan. Meskipun saat ini sangat terbuka kemungkinan kita untuk kerja di bidang yang sama sekali berbeda dengan yang kita pelajari. Contohnya? Bank. Tak perlu jadi sarjana ekonomi untuk bisa bekerja di perbankan. Bahkan sekarang ini nama IPB banyak dipelesetkan jadi 'institut perbankan bogor' lantaran banyak lulusannya yang justru bekerja di bank.

Begitu penting akhir masa SMA, namun sayang banyak siswa yang masih tidak tau apa yang ia inginkan, hanya terpaku pada 'lulus SMA'. Dalam masa-masa seperti itu, peran guru BK sangatlah penting. Tidak hanya BK, tapi guru secara umum. Guru BK bisa memberi masukan, dorongan, informasi mengenai dunia setelah SMA. Di Depok dan Jakarta, peran guru BK di beberapa sekolah sudah terasa. Siswa mulai dapat merencanakan masa depannya, terutama dimulai dengan ingin masuk jurusan apa. Siswa juga tidak hanya terpaku pada UI, UGM, ITB, bukan prestige, namun ilmu. Di sekolah dengan guru BK yang luar biasa, siswa berpeluang untuk berkonsultasi terkait dengan prestasinya selama ini dan kesempatannya untuk masuk ke perguruan tinggi idamannya.
Hal ini yang tidak terlihat di sekolah di luar daerah, boleh saya sebut : Manado. Selama saya bersekolah di sana, siswa berjibaku untuk masuk ke Universitas Sam Ratulangi, jurusan tertentu. Kalau bukan Sam Ratulangi, Universitas Manado, kalau tidak, Universitas Klabat, pun itu jurusan tertentu saja, paling jauh Univeritas Hasanuddin di Makassar, kalau tidak, ya sudah kerja saja.
Tak banyak informasi yang ada di sekitaran mereka mengenai universitas, apalagi jurusan. Bahkan masih ada anak yang tidak tahu kalau ada universitas di luar Sulawesi yang namanya adalah Universitas Indonesia, padahal universitas ini selalu disebut-sebut sebagai 3 besar universitas terbaik di Indonesia. Beruntung untuk siswa yang berasal dari keluarga menengah ke atas, mereka diberi kesempatan mencoba peruntungan di Malaysia, Singapura, Jerman, Australia, Tiongkok, atau Universitas swasta di Jakarta, Surabaya dan Jogja jika tak lolos PTN. Namun sebagian besar siswa masih belum berani untuk menebar sayapnya lebih lebar, membuka pandangannya lebih luas.

Siswa-siswa yang tak punya rancangan masa depan, biasanya ingin masuk universitas terutama ptn dengan hanya menetapkan target 'saya harus masuk universitas ini, jurusan apa saja lah, hukum boleh, ekonomi boleh, teknik boleh, yang gampang masuknya, yang penting di sini'. Sayangnya, jika siswanya seperti itu, setelah masuk ke jurusan yang bisa ia masuki, ia jadi tak punya target lanjutan. Targetnya hanya lulus sarjana, syukur-syukur bisa lulus sarjana, terkadang ada yang malas-malasan untuk kuliah.
Saya masih sering menemukan siswa yang seperti itu. Mengapa bisa seperti itu? Mungkin, mereka kurang informasi. Mungkin juga mereka kurang diberi dorongan dan target oleh orang tua.

Ya, orang tua punya peran penting disini. Peran itu, bukanlah dalam menentukan si anak harus masuk mana, melainkan seharusnya berperan dalam membimbing anak merancang masa depannya.
Saya beri contoh, 'mama rasa, kamu kurang cocok kalau jadi dokter, kamu itu pinter ngomong tapi belajarnya ya kamu tau sendiri cara belajar kamu gimana, kenapa ga jadi pengacara aja? atau mungkin jadi diplomat?' 
Atau dalam kasus pribadi saya sesaat setelah jadi sarjana, 'kamu itu ga cocok jadi karyawan, mama liat kamu lebih cocok jadi guru atau dosen', atau saat saya ingin menentukan jurusan kuliah dulu 'kamu kan sakit-sakitan, kenapa ga jadi dokter aja? biar bisa nyembuhin diri kamu sendiri'. Ya, orang tua saya memang kalau ngomong ke anak-anaknya dengan gaya bicara yang agak 'pedas, ketus'. 
Tidak perlu harus dengan to the point memberi saran jurusan, orang tua juga bisa memberi pengetahuan tentang kehidupan, seperti dalam kasus saya 'kalau jadi karyawan, kamu kaya untuk diri kamu sendiri. tapi kalau kamu jadi wirausaha, memberikan lapangan kerja pada orang lain, kamu sukses, kaya, karyawan kamu pun akan terangkat nasibnya. sebesar apapun perusahaan asing tempatmu bekerja, kamu hanya karyawan. namun sekecil apapun usaha yang kamu buat, kamu adalah bosnya'. 
Orang tua saya juga pernah bilang 'negeri kita ini negeri agraris loh, dulu waktu jaman soeharto kita swasembada pangan. sekarang? apa-apa impor. kita butuh inovasi bibit, supaya hasil taninya makin bagus. Apalagi sekarang orang-orang tertarik banget sama yang namanya organik, semua back to nature. orang-orang pertanian lagi dibutuhin. bikin bibit unggul, bikin teknik tani yang bagus biar hasil kita ga kalah sama Thailand. Banyak komoditi lokal kita disukai sama orang luar negeri, kayak manggis, salak, itu kan khas indonesia, kita bikin supaya bagus, jual ke luar negeri, jangan sampai mereka berhasil mengembangkan teknik tani yang berhasil bikin pohon itu bisa tumbuh dan berbuah lebih bagus disana.'.
Saya merasa beruntung punya orang tua yang dapat memberi inspirasi pada saya. Meskipun pada akhirnya saya tidak memilih bidang pertanian untuk saya pelajari.
Usia SMA, adalah saat-saat anak mulai mencari jati diri. Mereka butuh diberi inspirasi dan motivasi agar dapat bermimpi tentang masa depannya. Setelah mereka punya mimpi, barulah bimbing mereka untuk menentukan langkah-langkah mewujudkan mimpinya.
Sayangnya, masih banyak orang tua yang saya nilai terlalu arogan dalam menentukan masa depan putra putrinya. Banyak kasus orang tua yang menentukan : kamu harus jadi A. Seringkali terjadi pada orang tua yang ingin anaknya jadi dokter, atau profesi lain yang menuntut pendidikan khusus.
Biarkan siswa menentukan sendiri jalan hidupnya. Mereka perlu dibimbing agar tak salah jalan, tapi bukan berarti harus diikat dengan tali mengikuti pedati.

Itulah mengapa saya selalu menyelipkan pertanyaan 'kenapa kamu pilih jurusan itu' pada siswa yang saya tanya. Hanya untuk sekedar tahu, apa yang mereka inginkan dari masuk jurusan itu. Atau memberi bayangan tentang apa yang akan mereka hadapi.

Banyak anak yang hanya tau jurusan hukum, ekonomi, kedokteran, teknik kimia, teknik industri, elektro, mesin, dan beberapa jurusan beken lain. Akhirnya mereka hanya berkutat pada jurusan yang itu-itu saja. Tak banyak yang tahu ada jurusan bernama teknik fisika, teknik nuklir, biokimia, geodesi, geofisika. Ketidaktahuan mereka tentang detail jurusan seringkali membawa mereka untuk memandang sebelah mata terhadap jurusan tertentu, MIPA biasanya. Malah seringkali mereka salah interpretasi. Biasanya terjadi di seputar jurusan yang berhubungan dengan komputer seperti teknik informatika, teknik komputer, ilmu komputer. Apa bedanya?
Mungkin orang tua tak banyak mengerti soal ini. Senior yang telah kuliah dan guru, akan lebih banyak membantu. Di beberapa sekolah yang siswanya les di tempat saya mengajar, ada kegiatan 'Campus Goes to School'. Disana, senior-senior yang sudah lulus dan berkuliah di universitas, baik itu swasta maupun negeri dipanggil datang ke sekolah untuk menjelaskan tentang apa yang dipelajarinya di kampus, prospek kerjanya atau sekedar memperkenalkan kampusnya. Hal tersebut cukup efektif dalam memberi informasi pada siswa, agar tak salah pilih. Tak hanya itu, kegiatan semacam ini juga membuka wawasan siswa dan memberi mereka motivasi dan pilihan baru.

Seringkali anak yang naik ke kelas 12 masih belum tau apa yang ia inginkan. Jika menemukan anak yang seperti itu, biasanya saya akan memberi mereka pertanyaan atau tuntunan .
1. Kamu cari deh, apa yang ingin kamu lakukan banget di masa depan. Atau kerjaan macam apa yang kamu inginkan di masa depan. Atau perusahaan macam apa yang kamu ingin gabung. Sambil mikirin, kamu ingin kehidupan yang seperti apa di masa depan. Kamu tanya ke orang tua, atau guru, atau om, siapa aja yang lebih tua dari kamu.
2. Kalau udah nemu apa yang ingin kamu lakukan, kita lihat, cocok tidak dengan profil kamu.
3. Kalau cocok, kita buat daftar jurusan apa saja yang cocok dengan keinginan dan profilmu. Apakah teknik kimia, ataukah industri, ataukan ekonomi (misalnya). Memilih jurusan, sebaiknya kamu lihat juga prospek kerja ke depannya. Jadi kamu punya plan B nanti kalau kamu tiba-tiba berubah pikiran.
4. Setelah tentukan jurusan yang kamu inginkan, kita lihat universitas mana saja yang punya jurusan itu. Mana yang membuat kamu lebih berpeluang untuk masuk kesana, kita cek lewat prestasi belajar kamu. Tapi cek juga reputasi dan akreditasinya, jangan sampai akreditasinya ternyata jelek.
5. Kalau sudah tentukan pilihan jurusan dan universitas, berarti kamu sudah punya target. Kita atur jam belajar dan teknik belajar supaya targetmu tercapai.

Impian, gambaran masa depan, penting agar seorang anak punya target. Dengan memiliki target, ia akan lebih mudah menentukan langkah ke depan. Memang, impian tak selalu jadi kenyataan. Namun dengan memiliki impian, hidup akan lebih berarti. Tak sekedar menjadi buih yang sekedar terbawa kesana kemari mengikuti arah gelombang.
Setiap siswa memiliki gaya berbeda-beda. Pendekatannya pun berbeda-beda. Kita yang lebih tua harus menuntun mereka, bukan memaksa, bukan juga membiarkan.

Tulisan ini hanya sekedar membagi pemikiran saya pribadi, tentunya guru sekolah dan orang-orang yang berpengalaman di bidang psikologi pendidikan lebih kompeten ya untuk menangani siswa ya, ketimbang saya yang baru 4 tahun jadi guru bimbel. Tapi mungkin tulisan ini bisa jadi masukan untuk anda. :)
Jika kita bicara transportasi di ibukota, pasti langsung terbayang kemacetan yang merajalela dan semakin menggila, dengan jumlah motor yang membludak, angkutan umum yang ugal-ugalan, lengkap dengan pengamen, preman, copet, rampok, dan orang berperilaku seksual menyimpang di dalamnya, transjakarta yang sering mogok dan selalu terlambat, serta kereta yang luar biasa pada di rush hour. Bagi pegawai yang kerja di Jakarta namun memilih tempat tinggal di bogor, depok, tangerang dan bekasi, sepertinya naik angkutan umum terasa lebih baik ketimbang harus merasakan macet di segala tempat dari tempat kerja ke rumah atau sebaliknya. Kereta dan transjakarta, dua moda transportasi umum milik pemerintah yang terus berbenah, diharapkan memberi pelayanan terbaik pada calon penumpang.

Koran Republika pagi ini (Kamis 4 Desember 2014), memberi 1 halaman khusus membahas tentang kereta api di Indonesia, terutama Jabodetabek. Dimulai dengan halaman depan, membahas tentang kereta bekas jepang yang dibeli PT. KCJ (commuter jabodetabek), hanya kita yang beli kereta bekas jepang.

Tentunya hal ini menarik bagi saya. Untuk teman-teman yang juga menggunakan jasa kereta commuter line, pasti masih bisa melihat 'sisa-sisa jepang' yang ada di interior kereta. Ya, tulisan kanjinya masih ada. Bahkan ada gerbong masinis yang tulisan depannya 'Tokyo'. Kereta yang kita nilai bagus (lebih bagus daripada kereta listrik jabodetabek jaman dulu) itu memang impor dari Jepang. Tapi bukan impor baru, melainkan impor bekas.

Kereta jepang didesain untuk tahan pakai selama 50 tahun. Namun setelah 30 tahun pakai, penggunaan kereta itu akan dihentikan. Kalau tidak dijual, maka gerbong itu akan dihancurkan. Lalu mengapa 30 tahun pakai sudah dihentikan pemakaiannya? Ini berkitan dengan efisiensi. Setelah 30 tahun, biaya perawatannya akan menjadi lebih mahal. Bagi mereka, lebih baik membeli kereta baru daripada merawat yang tua.

Lalu mengapa harus bekas? Mengapa bukan menggunakan kereta buatan INKA?
Ini lah yang menjadi fokus di Republika hari ini. Masa guna yang masih 20 tahun lagi itu dimanfaatkan oleh PT. KCJ, dengan harga yang murah, masih bisa dipakai, bagus pula, buatan jepang pula. Baja Jepang memiliki kualitas terbaik, katanya. Semurah apakah kereta bekas jepang dibandingkan kereta baru buatan INKA? Ternyata memang jauh bedanya. Harga satu gerbong kereta bekas Jepang sekitar 800 juta rupiah hingga satu milyar rupiah. Sementara harga gerbong baru berkisar 10 milyar hingga 12 milyar rupiah. Untuk 1 gerbong loh. Kalikan saja 10, itulah harga kereta yang kita tumpangi setiap hari. Perbedaan harganya, hampir 10 kali lipat. Pantas saja KCJ lebih suka mengimpor bekas daripada beli baru.

Menurut mereka, ini demi penumpang juga. Jika dengan kereta bekas, maka harga tiket penumpang berlaku seperti sekarang, 2500 rupiah untuk 5 stasiun pertama, tambahan 500 rupiah untuk setiap 3 stasiun berkutnya, itu pun setelah disubsidi pemerintah. Bagaimana jika menggunakan kereta baru? Ternyata harga tiketnya bisa sekitar 50.000 rupiah. Sebagai contoh, di artikel itu dijelaskan kereta Bandara Kualanamu harganya 80.000 rupiah, karena keretanya adalah kereta baru. Wah bisa dibayangkan bagaimana jadinya kalau harga commuter line jabodetabek jadi semahal itu.

Namun timbul pertanyaan, Jepang saja yang orangnya teliti dan teratur enggan merawat yang tua itu, lalu bagaimana jika si tua itu dirawat oleh orang Indonesia yang (maaf) sembrono, seringkali menggampangankan masalah dan terkenal bisa bikin ga bisa rawat? Inilah yang harus menjadi konsentrasi PT. KCJ sekarang, sebagai konsekuensi membeli barang bekas. Barang tua yang seharusnya bisa dipakai 20 tahun lagi, bisa rusak sebelum 10 tahun jika tidak dirawat dengan benar. Oleh karena itu perawatan kereta harus benar-benar diperhatikan dan dilakukan oleh anak bangsa terbaik di bidangnya. Jangan sampai kereta tua tak terawat memberi petaka bagi penumpangnya.

Pertanyaan lainnya, mengapa Jepang? Mengapa bukan beli kereta jerman atau negara lain?
Rel kereta di jabodetabek ternyata masih menggunakan standar rel jaman belanda, yang ukurannya 1,067 meter. Saat ini, standar rel dunia sudah beralih menjadi 1,4 meter. Sementara yang masih menggunakan kereta dengan spesifikasi ukuran rel itu tinggal jepang saja. Otomatis Jepang yang jadi kiblat kita dalam membeli kereta bekas, selain karena bajanya yang bagus.

Antara nasionalisme dan keekonomian. Antara membeli produk lokal atau memberi harga murah pada rakyat. Kalau dilihat dari dua hal itu, memang ini menjadi pilihan yang sulit. Bagi rakyat, tentunya saya ingin transportasi umum yang cepat dan murah. Untuk mengajak orang merumahkan mobil dan motornya dan beralih ke transportasi umum, ongkos transport dengan transportasi umum itu harus dijaga semurah mungkin agar hitung-hitungan keekonomiannya jauh lebih murah dibandingkan bensin. Kereta adalah salah satu pilihan terbaik. Hanya perlu mengeluarkan 3500 rupiah dari stasiun depok baru ke Sudirman, dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Sangat terjangkau bukan? Uniknya, harga ini setengahnya ongkos dari rumah saya di Sawangan Depok ke stasiun depok baru atau terminal depok yang dipatok sopir angkot 6500 rupiah setelah kenaikan BBM Padahal rumah saya masih di depok juga, jaraknya tak sampai 10 km dari stasiu, dengan waktu tempuh angkot 1-1,5 jam di jam sibuk.

Tak hanya kereta, Transjakarta atau  yang lebih dikenal dengan busway, armadanya juga menjadi sorotan. Masih ingat bus transjakarta terbakar? Bukan hanya satu, tapi beberapa. Bus bekas!, kata ahok menuduh kepala dinas saat itu.  Seringkali armada yang tua juga mogok, terutama saat akan naik fly over. Bahkan beberapa koridor armadanya sudah bobrok, bau oli dan kopling di kabin, pintu tak bisa terbuka atau tertutup dengan langsung, AC bocor, dan lain-lain. Armada yang baru dibeli, bus gandeng, yang bagus ada di koridor-koridor yang melayani rute di jantung ibu kota seperti koridor Blok M-Kota, saya akui memang bagus, tapi sayang justru yang baru itu yang terbakar. Semoga saja ke depannya pak Ahok, gubernur resmi DKI Jakarta tetap memasang mata pada pejabat-pejabatnya agar tak lagi berani korupsi alat transprotasi umum.

Tak hanya masalah baru atau bekas, keterlambatan jadwal pemberangkatan adalah hal yang bahkan lebih penting untuk diperhatikan, baik di commuter line maupun transjakarta. Kereta mogok, keretanya didahului kereta jawa, antrian masuk manggarai, dan banyak permasalahan lainnya di perkereta apian. Tidak tanggung-tanggung, keterlambatan bisa sampai berjam-jam. Di halte transjakarta yang lalu lintas penumpangnya padat seperti harmoni, Dukuh atas 2, dan lain-lain, di jam padat bisa terjadi antrian sangat panjang, lebih dari 15 menit busnya baru datang. Walhasil ketika bus sampai langsung diserbu calon penumpang yang sudah terlambat kerja, jadilah desak-desakan dalam bus.

Lagi-lagi ini masalah armada. Armada tidak mencukupi untuk mengangkut penumpang di jam padat. PT. KCJ menargetkan penumpang yang diangkut tahun depan 1,2 juta orang per hari, sementara sekarang baru 600 ribu. Tidak mungkin ini dapat terlaksana jika armada keretanya kurang. Maka lagi-lagi harus impor bekas jepang. Transjakarta juga harus berbenah menambah armada jika ingin mendukung program pemerintah menggalakkan transportasi umum, asal jangan beli barang bekas cina lagi.

Selain jumlah armada, sistem juga harus diperbaiki. Saat ini Commuter line jabodetabek sudah menerapkan e-ticketing. Sejauh ini yang saya lihat penerapannya cukup teratur dan baik. Nopember hingga Desember ini Transjakarta juga mulai menerapkan full e-ticketing untuk sebagian besar koridor. Namun ini tidak dibarengi dengan kesadaran masyarakat untuk menggunakan uang elektronik sehingga banyak warga yang malah mundur, tidak jadi menggunakan transjakarta karena tidak punya uang elektronik.

E-ticketing dan uang elektronik memang cara yang baik untuk mempermudah dan mempercepat calon penumpang. Namun saya rasa penggunaannya masih terkotak-kotakkan. Untuk naik kereta commuter kita bisa menggunakan kartu THB untuk sekali jalan, atau Kartu Multi Trip, atau dengan uang elektronik dari berbagai bank seperti bank BCA, BNI, BRI dan e-money Mandiri. Namun kartu Multi Trip tidak bisa digunakan untuk naik bus transjakarta. Naik bus transjakarta harus menggunakan uang elektronik dari Mandiri, BNI, BRI, BCA. Nah ini lah yang saya maksud terkotak-kotakkan. Jadi kalau saya punya KMT yang saya beli dengan harga 30.000, saya tetap harus beli kartu e-money transjakarta dengan harga 40.000. Memang, pengelolanya berbeda, dan masing-masing pasti ingin keuntungannya sendiri-sendiri. Namun karena uang elektronik yang digunakan tidak seragam, ada bermacam-macam, sarana untuk top up uang elektronik itu tidak bisa sembarangan, bergantung pada jenis bank. Tidak semua jenis uang elektronik bisa di top up di halte busway. Sebagiannya harus di top up di atm masing-masing bank. Jadi saat saldo di KMT ada tapi di uang elektronik saldonya habis dan uang elektronik yang kita gunakan bukan yang bisa di top up di halte, kita harus bagaimana?

Berguru pada negeri tetangga, Singapura, mereka mengeluarkan satu jenis kartu untuk semua moda transportasinya, ezlink. Baik MRT, maupun bus. Jadi bisa di top up di berbagai tempat. Memang, menerapkan sistem itu untuk pengelola yang berbeda seperti antara Transjakarta dan KCJ akan sulit. perlu negosiasi antar pengelola dan bank. Pilihan yang mungkin adalah menerapkan sistem yang sama sehingga KMT bisa dipakai di transjakarta, atau menghapuskan KMT dan menggalakkan uang elektronik, atau, tidak ada perubahan apapun.

Selain masalah ticketing, satu hal yang menjadi pemikiran saya sejak lama adalah masalah lokasi halte dan stasiun. Menurut saya, seharusnya halte transjakarta dan stasiun terintegrasi dengan baik, agar calon penumpang dapat dengan mudah berpindah moda transportasi. Sebagai contoh, stasiun Depok baru letaknya bersebelahan langsung dengan terminal depok. Maka penumpang yang rumahnya harus naik angkot lagi, dapat dengan mudah menemukan angkotnya. Meskipun saat ini terminal dan stasiun belum ada jalan penghubung yang baik menunggu perombakan terminal. Sebagai perbandingan, stasiun Manggarai dan terminal Manggarai sama-sama merupakan tempat transit penumpang. Stasiun dan terminal itu cukup sibuk. Di terminal ada halte transjakarta yang cukup besar. Meskipun letaknya berdekatan, namun untuk mencapai terminal atau halte transjakarta dari stasiun cukup sulit. Harus melewati tempat sampah besar yang bau, melewati warung-warung yang mengisi trotoar, bahkan harus melewati underpass yang gelap baru bisa sampai di halte. Bagi perempuan, ini cukup berbahaya. Mengapa tidak dibuatkan sebuah jembatan penyeberangan atau apapun untuk mempermudah akses penghubung kedua tempat itu? Banyak stasiun yang tidak terintegrasi dengan halte bus transjakarta atau halte bus lain sehingga menyulitkan penumpang beralih angkutan. Ini yang menjadi PR lanjutan bagi pemerintah. Bagaimana caranya membuat para penumpang yang rela capek berdesak-desakan, ketimbang menghabiskan kuota BBM dan bikin macet jakarta, merasa nyaman dan tetap menggunakan transportasi umum.

Transportasi umum harus menjadi pilihan utama, jika ingin Jakarta minim polusi dan bebas macet.

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.