Perjalanan Pulang Kampung : Kalimantan Barat. Bagian 1

/
2 Comments
Awal September 2014.
Setelah sekian lama, akhirnya kesampaian juga pulang kampung ke Kalimantan Barat. Pertama kali menginjakkan kaki disana tahun 2002, dan ini yang kedua. Sangat jarang memang saya kesana, karena keluarga yang saya kenal semua berada di Depok. Kakek saya dari ayah lah yang orang dayak-melayu, beliau pergi merantau ke jakarta, dan sekarang sudah meninggal dunia. Karena itu saya tak punya banyak ikatan dengan tempat itu.

Saya dan keluarga hidup berpindah-pindah setiap 2 tahun sekali, mengikuti tempat tugas ayah. Namun alangkah beruntung ketika ayah ditugaskan di Mempawah, sebuah kabupaten yang ada di jalan penghubung Pontianak-Singkawang, yang juga adalah tempat kakekku dibesarkan.

Perjalanan ke Mempawah kali ini tidak disertai dengan adikku, karena ia harus sekolah. Kakek dan nenekku dari mama justru ikut serta. Penerbangan Jakarta-Pontianak kami lakukan dengan maskapai Lion Air jam 17.30. Ini adalah penerbangan pertamaku di senja-malam hari. Langit cerah, matahari terbenam dengan indah di sebelah kanan pesawat, sementara gelap menyelimuti bagian kiri pesawat.

Malam hari itu juga, kami langsung bertolak menuju Mempawah, diantarkan oleh famili. Ayah sudah memesankan kamar untuk kami di sebuah resort di Mempawah. Perjalanan dengan mobil berkecepatan tinggi itu berakhir setelah 2 jam. Pontianak-Mempawah jalurnya memang sangat bagus, berbeda dengan jalan raya di Depok yang berlubang dimana-mana. Hanya saja banyak jembatan yang letaknya dibuat meninggi sehingga mobil harus memperlambat laju. Jembatan dibuat tidak sejajar dengan jalan, melainkan lebih tinggi karena banyak perahu yang hilir mudik di bawah jembatan itu.

Mempawah terletak di pesisir, tak heran sekelilingnya banyak kebun kelapa, dan airnya pun payau.

Kami menginap di sebuah resort, yang dilengkapi dengan dermaga kecil, mini splash, kolam pemancingan, pokoknya sarana liburan deh. Saat sarapan, aku berjalan ke dermaga. Ternyata garis pantainya bukan terdiri dari pasir melainkan lumpur. Ya, lumpur coklat. Dan lumpur itu terhampar jauh ke tengah.

Ada batu-batu besar ditumpuk memanjang di pinggir pantai itu, tampaknya ditujukan untuk penanaman kembali mangrove disana. Jujur saja ini pengalaman pertamaku mengunjungi bibir pantai berlumpur, dan aku tidak banyak tahu mengenai ekosistem mangrove termasuk hewan yang ada di sana.
Dermaga Kecil di Resort yang mengarah ke pulau kecil

Pesisir pantai yang bukan terdiri dari pasir melainkan lumpur
Karena ini pengalaman pertama, maka aku tercengang melihat ikan yang berjalan di lumpur. Ikan itu sepintas mirip dengan ikan sapu-sapu yang hidup di lumpur sawah dan empang. Namun ikan disini memiliki sirip di punggungnya, yang bisa mengembang menjadi layar kecil! dan, ikan itu berjalan, merangkak dengan sirip kanan dan kirinya! Sumpah mereka berjalan merangkak! Tidak hanya satu, tapi banyak ikan itu, tersebar sepanjang lumpur. Ukurannya bervariasi. Kata resepsionis hotel, ikan itu bisa dimakan dan sebagai obat asma. Nama ikannya....... (ah lupa).


Seharian itu kami berkeliling kota mempawah. Ibukota kabupaten yang satu ini sangat kecil, meskipun wilayah kabupatennya sebenarnya sangat luas, cukup 15 menit saja berputar satu ibukota kabupaten ini, Kecil bukan? Bandingkan dengan tempat lain. 

Hanya satu masalahnya, tidak ada angkutan umum. Kemanapun anda pergi di sini, harus dengan sepeda, sepeda motor, atau berjalan kaki. Tidak banyak yang punya mobil. Tak ada ojek. Tak ada angkot. Sehat sih, masalahnya terik mataharinya itu, luar biasa. Jika ingin pergi ke kota lain, harus menunggu ada bisa ukuran kecil yang melayani rute Pontianak-Singkawang yang lewat. Tempat ini hanya tempat singgah, diantara dua kota besar : ibukota provinsi, Pontianak dan kota bisnis etnis tionghoa, Singkawang.

Pasar tradisional disini boleh ku acungi jempol. Teratur, ga becek, ga bau busuk dan ga amis seperti pasar tradisional pada umumnya. Pasar disini berbentuk bangunan permanen 1 lantai yang terbuka dan tempat penjajaan dagangannya terbuat dari dinding keramik, bukan meja lembab seperti pasar tradisional di jakarta. Di belakang bangunan tersebut langsung sungai besar, jadi ketika nelayan pulang melaut, merapat, langsung dijajakan lah ikan-ikan itu.

Malam harinya kami mengunjungi Kota Singkawang. Singkawang adalah sebuah kota kecil yang jaraknya 4 jam perjalanan dari kota Pontianak, 1,5 jam dari mempawah, namun aktivitas bisnis disini sangat tinggi. Kota ini didominasi oleh etnis tionghoa. Bahkan sebagian besar dari mereka bicara bahasa mandarin (entah dengan dialek apa). Memang, sangat jauh berbeda dengan Mempawah. Singkawang ramai saat malam. Sementara Mempawah sudah krik krik.

Kami solat magrib di Masjid Raya Singkawang. Masjid besar dengan arsitektur yang sangat baik untuk ukuran masjid di daerah minoritas. Tak jauh dari masjid ada klenteng besar. Terletak di pusat kota yang dikelilingi toko cina.

Terletak di sebuah persimpangan besar, dan tata letak serta model bangunannya khas kota bisnis tionghoa, atau kota jadul
Singkawang tidak hanya sebagai pusat bisnis, tapi juga rekreasi. terdapat pantai yang bagus serta pulau indah di kota ini, yang jadi tujuan wisata warga pontianak dan sekitarnya. Sayang, karena keterbatasan waktu kami tidak bisa ke sana.

Esok harinya, rencananya kami akan ke Entikong lalu menginap semalam di Kuching, Malaysia. Siap dengan paspor. Bagi warga Entikong sendiri, kalau mau masuk ke Serawak, Malaysia, tak perlu paspor. Tapi cukup dengan menunjukkan KTP, dan diberi waktu selama seharian, biasanya sih 4 jam. Perbatasan negara ditutup akses keluar masuknya pukul 4 sore. Sementara perjalanan Mempawah-Entikong melewati hutan hujan tropis itu diperkirakan butuh waktu 8 jam dengan kecepatan tinggi. Satu lagi syarat masuknya bagi WNI, jika ingin membawa kendaraan pribadi dari Indonesia ke Malaysia, kaca mobil harus bening, tidak boleh menggunakan kaca film gelap. Oke, mana ada mobil di indonesia yang kacanya bening sekarang ini? hahaha. Karena syarat-syarat itu kami gagal kesana.

Tak apa lah.
Kami punya alternatif petualangan di Kalimantan Barat ini. Kami bertolak ke Mandor, kabupaten Landak. Saudara kami banyak yang tinggal di sana. Dan ayahku membeli beberapa petak tanah untuk ditanami karet agar dapat menjadi sumber pendapatan saudaraku dan beberapa warga dayak lokal lainnya.

Perjalanan menuju Mandor ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam, melewati jalan baru, bukan melewati Sungai Pinyuh. Jalan Baru, karena memang jalan itu baru diresmikan, dan ditujukan untuk keperluan industri sawit dan nanas. 

Miris sekali rasanya melihat wilayah di kiri kanan jalan. Tanah basah yang kering, sepertinya bekas gambut, hasil bakar. Masih dapat terlihat jelas petak-petak tanah yang masih terdapat pohon-pohon kering kerontang, bekas terbakar. Terlihat jelas juga ekskavator yang sedang melakukan pembersihan. Di beberapa bagian sudah nampak pohon sawit berumur 1 tahunan. Jelas pemiliknya bukan orang biasa, bukan warga awam biasa, terlihat dari parit-parit besar yang mengelilingi kebun sawit itu, juga ekskavator dan truk-truk besar itu. Awalnya aku tidak mengerti fungsi parit itu, namun belakangan, sesuai dengan pekerjaanku yang sekarang, aku mengerti. Parit besar itu berfungsi sebagai pemisah api, jadi jika suatu saat terjadi kebakaran lahan, api hanya akan membakar petak itu saja, tidak dengan petak yang lain. Tapi lebih dari itu, parit itu berfungsi sebagai pengering lahan gambut (jika parit itu ternyata ada sebelum perkebunan ini jadi). Lahan Gambut secara alami adalah wilayah yang basah. jika basah, tak akan terbakar secara alami, kalaupun terbakar secara alami, jumlahnya tak akan begitu besar. Namun banyak perusahaan nakal yang membuat parit agar air di lahan gambut itu mengalir, jadi lahan gambutnya kering, sehingga sangat mudah dibakar. 

Di beberapa wilayah bahkan vegetasinya bukan sawit, melainkan nanas. Hei, kalian tahu lah sependek apa pohon nanas. Bisa kalian bayangkan terik matahari khas Kalimantan barat mengenai daerah ini. Basah wilayahnya, tapi gersang.

Sayang saat itu mobil melaju kencang dan ponselku kehabisan baterai sehingga tak dapat memotret sebagai bukti nyatanya,

Jalan baru tu tembus di Anjongan. uniknya, ada satu wilayah yang katanya adalah batas masuk madura.

Masih ingkatkah kalian dengan kerusuhan Sampit? Dayak vs Madura?

Kejadian itu adalah luka mengerikan bagi suku madura yang ada di Kalimantan. Banyak yang dibunuh, diburu. Kalian tahu sendiri lah dua suku itu punya watak keras yang kurang lebih sama, dilengkapi dengan ilmu-ilmu dan senjata tajam. 

Nah di desa itulah batas madura. Madura tidak boleh masuk lebih dari daerah itu (kalau ga mau mati). Entahlah ampai sekarang hukum adat itu masih berlanjut atau tidak. Saya harap sih tidak. 

Ada sedikit cerita tentang masa kerusuhan itu. Saudaraku ada yang masih dayak tulen. Saat kerusuhan terjadi, ada seorang madura bersembunyi di rumahnya. Bukan membantainya, yang ia lakukan adalah menyuruh si madura itu bersembunyi di gentong air. Kemudian warga dayak yang sedang memburu madura mendatangi rumah itu. Pemuka warga itu bertanya dimana si madura, baunya terasa disini (gokil bisa melacak orang dari baunya). Saudaraku menutup-nutupinya, akhirnya warga itu pun pergi dan si madura selamat. Sejak saat itu, keluarga saudaraku selalu diberi pelayanan dan jamuan terbaik jika singgah ke Sungai Pinyuh, tempat si madura itu menetap sekarang. Jadi, ga semua dayak suka nebas madura saat itu. ada juga yang punya hati baik. Ga tega, katanya.

Masuk wilayah Anjongan, mulailah mata disuguhi pemandangan hutan, hutan yang sudah mulai digunduli. Udaranya jauh lebih sejuk dibandingkan Mempawah. Banyak sawah padi dan airnya cukup jernih.

Tak jauh dari Anjongan, masuklah kami ke kawasan Mandor, tempat 20.000 orang dibantai oleh tentara jepang tahun 1942.

Bersambung di Bagian 2.



You may also like

2 komentar:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.