Honeymoon? Harus Banget?

/
0 Comments
Honeymoon? harus banget?
Sebagai orang yang baru nikah, kalau ketemu temen, pasti ada aja yang nanya 'honeymoon kemana ki?'.
honeymoon kemana ya?
ke rumah aja ah.
mungkin saya dan suami adalah satu pasang dari segelintir pasangan yang ga ngambil cuti menjelang dan pasca hari pernikahan.
Sabtu pagi nikah, kamis malam saya masih maksa masuk kuliah jumatnya karena ada praktikum sampai jam 3 sore. Meskipun akhirnya setelah melalui perdebatan panjang dan diceramahi panjang lebar oleh para tetua, saya urung bepergian di jumat itu. Suami pun sama, ga berani minta libur karena baru mulai kerja, tapi dikasih libur jumatnya oleh editornya.
Seninnya?
saya kuliah, suami kerja.
selasanya?
saya ujian, suami kerja luar alias liputan.
life must goes on guys.
bukan berarti setelah menikah lalu hidup kita akan penuh bunga-bunga, manis-manis gitu, malah kebalikannya. setelah menikah semua pola hidup lo akan berubah.

honeymoon?
nanti aja. ada hal esensial lain yang lebih penting daripada menikmati manisnya hidup beberapa hari di pinggir pantai.
Apa itu? Keluarga.
Mungkin karena saya terlahir dan besar di keluarga berbudaya betawi, yang mana slogannya 'makan ga makan, ngumpul', maka keluarga lah yang menjadi fokus utama keluarga kami. Orang yang baru masuk ke keluarga ya harus mulai dibawa masuk, melebur dengan keluarga. Maka sesuai adat, minggunya, sehari setelah akad nikah, saya keliling rumah saudara, membawakan kue dan makanan, door to door. Lalu setelah itu giliran saya yang dibawa 'masuk' ke keluarganya, dengan acara 'ngendong tiga hari' (tujuh hari kalau untuk saya), setelah itu nginep di rumahnya hampir tiap weekend.

honeymoon tiga hari, pulang ke jakarta jadi males kerja karena keenakan liburan. biasa itu.

ketika kita mulai menikah, minggu pertama hingga minggu ke empat itu esensial dalam mengatur ritme kunjungan ke orangtua kedua belah pihak, supaya mereka ga kangen berat. bahkan terkadang untuk jalan ke mall berdua aja harus kita kesampingkan untuk menemani orangtua atau justru ke mall nya bareng orangtua. menikah itu kan bukan untuk menikmati hidup berdua saja, tapi juga untuk memberikan kebahagiaan untuk orangtua. Orangtua ga butuh pemberian berupa materi, dengan kunjungan rutin pun itu membahagiakan mereka.

setelah menikah, pola hidup berubah.
pagi-pagi harus bangun lebih pagi dan lebih buru-buru dari mama, siapin sarapan, bikinin menu yang beda buat bekal suami ke kantor dan bekal saya ke kampus, berusaha mandi secepat kilat, ngatur jam nyuci baju ditengah kesibukan kuliah sambil kerja.
dan yang paling menyenangkan, nunggu suami pulang kerja, cium tangannya, bawain tasnya, nemenin dia makan malam sambil jaga porsi dan nutrisi makanannya (jangan sampe dia makan kebanyakan larut malam begini atau minum yang manis-manis).
itu lebih esensial dibandingkan bermanis-manis tiga hari di pinggir pantai.

buat cewek yang ga bisa honeymoon karena duitnya kurang, ga usah ngerengek ngambek pengen ke bali sebelum hamil.
nerima duit pertama dari suami pas dia gajian itu senengnya luar biasa loh. dan disitu kalian diajak mikir, 'duit kita cuma segini ya? padahal kita butuh nabung buat beli rumah'.
karena menikah itu bukan cuma 'jalan-jalan nginep berduaan ngapain aja halal', namun juga harus menjadi lebih bijaksana. jalan-jalan boleh, tapi, sampe akhir bulan ada uang ga? buat listrik? internet cepet? bolt? makanan sampe akhir bulan? ongkos kamu, ongkos aku?

tiap malam bisa jadi honeymoon koq buat pengantin baru, asalkan ikhlas dan dibawa enjoy aja.
honeymoon, silahkan aja. yang ga bisa honeymoon, woles aja. yang ga punya duit, ga usah ngerengek.


You may also like

Tidak ada komentar:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.